Ahad 26 Jul 2026 05:51 WIB

Allah Tidak Pernah Meninggalkan Hamba-Nya

Saat Langit Terasa Sunyi, Renungkan QS Ad-Dhuha Ayat 3

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Pengunjung mengamati produk di salah satu stan saat acara World Quranic Civilization Forum di Jakarta, Selasa (16/6/2026). Acara yang digelar oleh Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) tersebut digelar dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah dengan beragam acara seperti bazar umkm, pameran produk-produk Palestina hingga forum diskusi yang diisi oleh para ulama internasional hingga pemerhati Al-Quran dengan tujuan mempererat hubungan dengan Al-Quran sebagai fondasi peradaban umat.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung mengamati produk di salah satu stan saat acara World Quranic Civilization Forum di Jakarta, Selasa (16/6/2026). Acara yang digelar oleh Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) tersebut digelar dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah dengan beragam acara seperti bazar umkm, pameran produk-produk Palestina hingga forum diskusi yang diisi oleh para ulama internasional hingga pemerhati Al-Quran dengan tujuan mempererat hubungan dengan Al-Quran sebagai fondasi peradaban umat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada masa dalam kehidupan ketika doa-doa terasa seperti mengetuk pintu yang tak kunjung terbuka. Kita berusaha sekuat tenaga, tetapi hasil belum juga tampak. Hati mulai lelah, langkah terasa berat, bahkan muncul pertanyaan yang diam-diam mengusik batin, "Apakah Allah masih mendengar doaku?"

Perasaan seperti itu ternyata bukan sesuatu yang asing dalam perjalanan orang-orang beriman. Bahkan Rasulullah pernah melewati masa ketika langit seolah sunyi.

Baca Juga

Setelah wahyu pertama turun, datanglah masa ketika wahyu berhenti beberapa waktu. Rasulullah, merindukan datangnya kembali kalam Allah. Pada saat itulah kaum musyrikin Makkah menjadikan keadaan tersebut sebagai bahan ejekan. Dalam riwayat sahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa seorang perempuan dari kaum Quraisy berkata kepada Nabi, "Aku tidak melihat setanmu kecuali telah meninggalkanmu."

Allah tidak membiarkan Rasul-Nya menjawab sendiri ejekan itu. Dia menjawabnya langsung melalui firman-Nya yang begitu lembut sekaligus menenangkan.

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Mā wadda'aka rabbuka wa mā qalā.

"Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu." (QS. Ad-Dhuha: 3)

Kalimat ini mungkin hanya terdiri atas beberapa kata. Namun di dalamnya tersimpan pelukan yang menenangkan hati setiap orang yang pernah merasa sendiri.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bantahan terhadap anggapan orang-orang musyrik yang mengira terhentinya wahyu adalah tanda Allah meninggalkan Rasulullah. Tidak demikian. Jeda itu bukan murka Allah, melainkan bagian dari hikmah dan pengaturan-Nya.

Perhatikan bagaimana Allah memulai ayat ini dengan menyebut "Rabbuka", "Tuhanmu." Bukan sekadar Allah, tetapi Rabb, Dzat yang memelihara, membimbing, menjaga, dan mendidik hamba-Nya dengan kasih sayang yang tidak pernah putus. Sejak kata pertama, Allah sudah menghapus kegelisahan Rasul-Nya sebelum menegaskan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan beliau.

Lalu Allah melanjutkan dengan penegasan kedua, "wa mā qalā", "dan tidak pula membencimu." Seolah-olah Allah ingin menghilangkan dua prasangka sekaligus. Pertama, bahwa Rasulullah ditinggalkan. Kedua, bahwa jeda wahyu itu terjadi karena Allah murka kepadanya. Keduanya ditepis dengan kalimat yang singkat, tetapi begitu dalam maknanya.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi