Kamis 09 Jul 2026 05:59 WIB

Mengapa Allah Mengulang Janji Kemudahan Dua Kali?

Bangunan bisa roboh, harapan tidak boleh runtuh.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Jamaah membaca Al-Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Sejumlah umat muslim, memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memperbanyak amal ibadah dengan membaca Al-Quran dan berdzikir di masjid sebagai upaya memperbaiki diri pada bulan suci.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Jamaah membaca Al-Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Sejumlah umat muslim, memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memperbanyak amal ibadah dengan membaca Al-Quran dan berdzikir di masjid sebagai upaya memperbaiki diri pada bulan suci.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia adalah negeri yang akrab dengan bencana. Gempa bumi, banjir, longsor, letusan gunung api, hingga cuaca ekstrem datang silih berganti.

Berbagai kajian tentang ketahanan bencana menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia sehingga membangun resiliensi atau daya lenting masyarakat menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Baca Juga

Namun, resiliensi sejati bukan hanya soal membangun kembali rumah, jalan, dan jembatan. Lebih dari itu, resiliensi adalah kemampuan menjaga hati agar tidak roboh ketika kehidupan sedang runtuh.

Dalam keadaan seperti itulah Alquran menghadirkan penghiburan yang tidak lekang oleh zaman.

Firman Allah SWT

وَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Wa inna ma'al-'usri yusrā. Inna ma'al-'usri yusrā.

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS Al-Insyirah [94]: 5–6)

Ketika membaca ayat ini, banyak orang memahami bahwa setelah kesulitan pasti datang kemudahan. Padahal Alquran menggunakan diksi yang jauh lebih menenangkan. Allah tidak berfirman "sesudah kesulitan ada kemudahan", tetapi "bersama kesulitan ada kemudahan." Artinya, pada saat seseorang sedang berada dalam masa paling sulit sekalipun, Allah telah menghadirkan benih-benih pertolongan-Nya. Mungkin belum terlihat oleh mata, tetapi sudah ada dalam ketetapan-Nya.

Para mufasir memberikan perhatian khusus pada pengulangan ayat tersebut. Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penghiburan Allah kepada Rasulullah SAW yang menghadapi penolakan, tekanan, dan berbagai penderitaan pada awal dakwah. Pengulangan itu menjadi penegasan bahwa kesempitan hidup tidak akan berlangsung selamanya. Bahkan beliau mengutip hadis Nabi SAW yang masyhur, "Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan."

Penjelasan itu lahir dari keindahan bahasa Alquran. Kata "al-'usr" (kesulitan) pada kedua ayat menggunakan bentuk yang sama sehingga dipahami sebagai satu kesulitan yang sama. Sementara kata "yusr" (kemudahan) hadir tanpa kata sandang sehingga dipahami sebagai dua kemudahan yang berbeda. Seakan-akan Allah sedang mengajarkan bahwa satu kesulitan tidak pernah datang sendirian, tetapi selalu diiringi lebih dari satu pintu kemudahan.

Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan sunnatullah dalam kehidupan manusia. Kesulitan bukanlah tujuan akhir, melainkan fase pendidikan dari Allah agar seorang hamba tumbuh menjadi lebih matang, lebih sabar, dan lebih dekat kepada-Nya. Karena itu, seorang mukmin tidak diajarkan memandang ujian sebagai hukuman, melainkan sebagai proses menuju kebaikan yang lebih besar.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi