REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Memasuki Muharram, banyak orang berbicara tentang awal yang baru. Kalender Hijriah berganti, lembaran waktu kembali terbuka, dan harapan-harapan baru mulai dipanjatkan.
Namun, awal yang paling penting sering kali bukan pergantian tanggal di kalender, melainkan keberanian hati untuk kembali mengetuk pintu Allah. Tahun yang baru tidak selalu menuntut langkah yang besar.
Terkadang, ia hanya membutuhkan satu keberanian sederhana: kembali berdoa dengan hati yang lebih jujur dan iman yang lebih hidup. Dalam suasana itulah Surah Al-Baqarah ayat 186 terasa begitu relevan. Allah tidak sekadar mengajarkan cara meminta, tetapi juga menenangkan hati setiap hamba yang datang kepada-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Wa iżā sa’alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb, ujību da‘watad-dā‘i iżā da‘ān, falyastajībū lī walyu’minū bī la‘allahum yarsyudūn.
"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh petunjuk."
Ayat ini turun dalam konteks pertanyaan tentang kedekatan Allah. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan beberapa riwayat yang menjelaskan latar turunnya ayat ini. Di antaranya terdapat riwayat bahwa seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah SAW apakah Tuhan itu dekat sehingga cukup bermunajat kepada-Nya atau jauh sehingga harus dipanggil dengan suara keras.
Dalam riwayat lain disebutkan para sahabat bertanya tentang kedekatan Allah, lalu turunlah ayat ini sebagai jawaban. Riwayat-riwayat tersebut dinukil oleh Ibnu Katsir, sehingga dapat dipahami bahwa ayat ini turun berkaitan dengan pertanyaan manusia mengenai bagaimana mereka berhubungan dengan Rabb mereka. Karena redaksi riwayatnya tidak tunggal, para ulama bersikap hati-hati dan tidak menambahkan kisah-kisah yang tidak memiliki landasan yang kuat.
Ada kelembutan yang sangat indah pada susunan ayat ini. Dalam banyak ayat Alquran, ketika manusia bertanya kepada Rasulullah SAW, Allah memerintahkan beliau menjawab dengan kata qul (katakanlah).