REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari dalam kitab At Tanwir menuliskan bagaimana cara Nabi Musa AS dalam berdoa meminta rezeki kepada Allah SWT. Menurut Syekh Ibnu Athaillah, Nabi Musa tidak mengarahkan doanya pada permintaan secara langsung, tapi dia berdoa disertai dengan pengakuan atas kefakiran dan rasa butuhnya di hadapan Allah SWT.
Dia juga bersaksi atas ke-Mahakayaan-Nya. Ini karena ketika ia menetapkan sifat [ada dirinya dengan kefakiran dan rasa butuh, ia mengenali Tuhannya sebagai yang Mahakaya dan tidak membutuhkan pada yang lain. Siapa yang mengenali dirinyam maka ia mengenali Tuhannya.
Kondisi ini merupakan salah satu dari hamparan munajat yang beragam jumlahnya. Terkadang Allah menempatkan kita pada rasa butuh agar kita berdoa kepada-Nya dengan memanggil, "Ya Ghani, Wahai Dzat yang Mahakaya". Di lain waktu, Allah membuatmu berada dalam hamparan kehinaan supaya engkau bermunajat kepada-Nya dengan menyebut, "Ya Aziz, Wahai Dzat Yang Maha Mulia."
Pada kesempatan lain, Allah menempatkanmu pada hamparan kelemahan supaya engkau memanggil-Nya dalam doa, "Ya Qawi, Wahai Dzat yang Maha Kuat."
Pengakuan Nabi Musa bahwa ia membutuhkan Allah merupakan gambaran dari bentuk permintaannya kepada Allah. Walaupun dia tidak menyebutkan permintaaannya secara eksplisit.
Terkadang sebuah permintaan dideskripsikan dengan menyebutkan sifat seorang hamba yang sedang dalam keadaaan butuh. Kadang kala, sebuah permintaan dideskripsikan dengan menyebutkan sifat Allah yang Maha Esa. Sebagaimana tercantum dalam hadits:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari ‘Arafah dan sebaik-baik apa yang aku dan para Nabi sebelumku baca adalah
“LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKALAHU LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR
(Tiada Ilah melainkan Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah segala kerajaan dan pujian dan Dialah Maha menguasai atas segala sesuatu).” (HR Tirmidzi)
Syekh Ibnu Athaillah menuliskan, Rasulullah menjadikan pujian kepada Allah sebagai doa. Ini karena memuji Tuhan yang Mahakaya dengan menyebutkan sifat-sifatNya dimaknai sebagai penjabaran atas keutamaan-Nya.
Kembali ke Nabi Musa, dia berbuat baik kepada dua putri Nabi Syuaib, tapi ia tidak menginginkan upah atau meminta balasan dari mereka berdua. Lantas, ketika Nabi Musa memberi minum ternak milik dua putri Nabi Syuaib, ia menghadapkan diri dan meminta sesuatu kepada Allah, bukan kepada mereka berdua.
Sesungguhnya Nabi Musa meminta kebaikan kepada Tuhan yang kapanpun diminta, Allah pasti memberi. Nabi Musa telah memenuhi kewajibannya, tapi tidak menuntut haknya. Oleh karena itu, dia mendapatkan balasan di sisi Allah dengan mempercepat pemberian haknya di dunia sebagai bonus dari hak yang disimpan di akhirat, yaitu menikah dengan salah satu putri Nabi Syuaib dan menjadi menantunya.