REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syekh Ibnu Athailah As Sakandari dalam kitab At Tanwir menuliskan, Alquran mengabadikan kisah Nabi Yunus AS dalam berdoa dalam surat Al Anbiya ayat 87:
وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ
wa dzan-nûni idz dzahaba mughâdliban fa dhanna al lan naqdira ‘alaihi fa nâdâ fidh-dhulumâti al lâ ilâha illâ anta sub-ḫânaka innî kuntu minadh-dhâlimîn
(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, “Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.
Lalu Allah memberitahukan tentang diri-Nya dalam ayat selanjutnya, Al Anbiya 88:
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّ ۗ وَكَذٰلِكَ نُـنْجِى الْمُؤْمِنِيْنَ
fastajabnâ lahû wa najjainâhu minal-ghamm, wa kadzâlika nunjil-mu'minîn
Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.
Dalam ayat ini, Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan, bahwa Nabi Yunus AS tidak meminta kepada Allah SWT secara terang-terangan, melainkan ekspresi pujian dan pengakuannya di hadapan Allah yang menunjukkan rasa butuh kepada-Nya. OIeh karena itu, Allah menganggap pujian dan pengakuan itu sebagai bentuk permintaan.
Doa itu diucapkan Nabi Yunus AS tatkala dia ditelan seekor ikan di lautan. Lalu Allah menyelamatkannya.