REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada saatnya manusia berhenti sejenak dari kesibukan, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: untuk apa sebenarnya semua ini dijalani? Kita bangun setiap pagi, mengejar pekerjaan, menata keluarga, mengumpulkan harta, mempertahankan kedudukan, dan menyusun berbagai rencana. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu kenyataan yang kerap kita singkirkan dari pikiran: kehidupan ini tidak berlangsung selamanya. Setiap langkah sedang membawa kita menuju satu pintu yang pasti, yaitu kematian.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 2:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
Allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā, wa huwal-‘azīzul-gafūr.
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.”
Ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah menciptakan kehidupan semata-mata agar manusia dapat menikmati dunia. Allah juga tidak menyatakan bahwa kehidupan diberikan supaya manusia menjadi paling kaya, paling terkenal, paling berkuasa, atau paling panjang umurnya. Allah menegaskan bahwa mati dan hidup diciptakan sebagai ujian: siapakah di antara manusia yang paling baik amalnya.
Menariknya, dalam ayat tersebut Allah menyebut kematian sebelum kehidupan: khalaqal-mauta wal-ḥayāta, Dia menciptakan mati dan hidup. Seolah-olah sejak awal manusia diingatkan bahwa kehidupan tidak dapat dipahami secara utuh tanpa mengingat kematian. Kita baru akan mengetahui nilai waktu ketika menyadari bahwa waktu itu terbatas. Kita baru mengerti mahalnya kesempatan ketika sadar bahwa kesempatan tidak selalu datang kembali.
Kematian bukanlah kegagalan kehidupan. Ia merupakan bagian dari ketetapan Allah atas kehidupan itu sendiri. Kematian tidak berada di luar kekuasaan-Nya. Ia bukan peristiwa liar yang terjadi tanpa rencana. Sebagaimana kehidupan diciptakan oleh Allah, kematian pun diciptakan oleh-Nya.
Karena itu, bagi orang beriman, mengingat kematian bukanlah ajakan untuk membenci kehidupan. Mengingat kematian justru mengajarkan cara mencintai kehidupan secara benar. Kita tidak lagi memandang umur hanya sebagai deretan hari, tetapi sebagai kumpulan kesempatan untuk berbuat baik. Kita tidak lagi mengukur hidup berdasarkan panjangnya usia, melainkan berdasarkan kebaikan yang ditinggalkan.
Ada orang yang hidup begitu lama, tetapi kehadirannya tidak banyak memberikan manfaat. Ada pula orang yang usianya singkat, tetapi kebaikannya terus dikenang dan mengalir setelah jasadnya kembali ke tanah. Umur panjang memang merupakan nikmat, tetapi panjangnya umur baru bernilai ketika diisi dengan amal saleh.
Ayat ini mengajarkan bahwa persoalan terbesar manusia bukanlah berapa lama ia hidup, melainkan bagaimana ia menjalani hidup.
Bukan Amal yang Paling Banyak
Allah tidak berfirman, “Siapa di antara kamu yang paling banyak amalnya.” Allah berfirman, “Siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
Perbedaan antara “paling banyak” dan “paling baik” amatlah dalam. Banyaknya amal dapat dilihat manusia, tetapi baiknya amal hanya diketahui secara sempurna oleh Allah. Amal yang tampak besar di hadapan manusia belum tentu bernilai besar di sisi-Nya. Sebaliknya, amal yang terlihat kecil mungkin menjadi sangat mulia karena lahir dari hati yang ikhlas.
Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa kehidupan dan kematian diciptakan untuk menguji siapa yang amal ibadahnya paling ikhlas di sisi Allah dan paling taat kepada-Nya. Dengan demikian, kualitas amal bukan hanya ditentukan oleh apa yang dikerjakan, tetapi juga oleh niat yang tersembunyi di dalam hati.
Seseorang mungkin menyedekahkan harta dalam jumlah besar, tetapi hatinya ingin dipuji. Orang lain mungkin hanya mampu memberikan sedikit, tetapi ia memberikannya dengan tulus dan diam-diam. Di mata manusia, yang pertama tampak lebih besar. Namun, di sisi Allah, ketulusan dapat menjadikan sesuatu yang kecil jauh lebih berat timbangannya.