Selasa 29 Sep 2026 11:04 WIB

Ketika Kebaikan Terasa Tak Berbalas, Allah Menjaganya

Setelah Allah memerintahkan istiqamah, perintah itu disusul dengan shalat.

Ilustrasi ngaji Alquran.
Foto: EPA
Ilustrasi ngaji Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada masa ketika seseorang telah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi hasilnya belum terlihat. Ada pekerjaan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh tetapi belum memperoleh penghargaan, ada kebaikan yang seolah tidak diingat orang, dan ada kesabaran yang terus diuji justru ketika seseorang merasa telah berada di jalan yang benar.

Al-Qur'an memberikan cara pandang yang berbeda terhadap keadaan semacam itu. Ukuran sebuah kebaikan ternyata bukan apakah manusia segera membalasnya, melainkan apakah Allah menerimanya dan menyimpan pahalanya. Pesan itu disampaikan dengan sangat singkat tetapi kuat dalam Surah Hud ayat 115:

Baca Juga

وَٱصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Arab-Latin: Waṣbir fa innallāha lā yuḍī'u ajral-muḥsinīn.

Artinya: “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Hud: 115)

Sabar Setelah Perintah Istiqamah

Untuk memahami kedalaman ayat ini, menarik membaca rangkaian ayat sebelumnya. Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb tidak memandang ayat tersebut sebagai kalimat yang berdiri sendirian. Ia membahasnya dalam rangkaian perintah Allah yang dimulai dengan istiqamah, larangan condong kepada kezaliman, kemudian mendirikan shalat dan melakukan kebaikan.

Ar-Razi memberi perhatian khusus pada susunan tersebut. Setelah Allah memerintahkan istiqamah, perintah itu disusul dengan shalat. Menurut ar-Razi, susunan tersebut menunjukkan kedudukan shalat sebagai salah satu ibadah terbesar setelah iman kepada Allah.

Di sinilah kata “waṣbir”, bersabarlah, memperoleh kedalaman maknanya. Kesabaran bukan sekadar sikap ketika tertimpa musibah. Dalam konteks rangkaian ayat ini, kesabaran juga diperlukan untuk mempertahankan istiqamah, menjalankan ketaatan, menjaga shalat, menjauhi kezaliman, dan terus melakukan kebaikan.

Dengan kata lain, manusia bukan hanya membutuhkan kesabaran ketika hidup sedang buruk. Kita bahkan membutuhkan kesabaran untuk terus menjadi baik.

Kebaikan Menghapus Keburukan

Sebelum perintah bersabar, Allah berfirman dalam ayat 114:

إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.”

Ar-Razi menjelaskan adanya beberapa penafsiran mengenai al-hasanāt atau kebaikan dalam ayat tersebut. Ia antara lain mencatat penafsiran Ibnu Abbas yang menghubungkannya dengan shalat, serta pendapat Mujahid yang memasukkan zikir kepada Allah sebagai bagian dari kebaikan tersebut.

Kemudian rangkaian itu berujung pada perintah bersabar. Susunannya seakan mengajarkan bahwa melakukan kebaikan adalah satu perkara, sedangkan mempertahankan kebaikan dalam waktu panjang adalah perkara lainnya.

Seseorang mungkin mudah berbuat baik sekali. Jauh lebih berat tetap jujur ketika kejujuran merugikan dirinya, tetap bekerja sungguh-sungguh ketika tidak ada yang memuji, tetap menolong ketika pertolongan dilupakan, dan tetap berbuat benar ketika jalan pintas tampak lebih menguntungkan.

Di sanalah sabar bertemu dengan ihsan.

Allah Tidak Mengatakan Semua Akan Langsung Terbalas

Bagian kedua ayat tersebut sangat menenangkan:

فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Perhatikan bahwa Allah tidak menjanjikan setiap kebaikan akan segera menghasilkan sesuatu yang kita inginkan di dunia. Ayat tersebut juga tidak mengatakan setiap usaha pasti menghasilkan keberhasilan dalam bentuk yang manusia bayangkan.

Janji yang diberikan justru lebih mendasar: tidak ada ihsan yang hilang di sisi Allah. Inilah yang mengubah cara seorang mukmin memandang hasil. Manusia dapat mengabaikan pekerjaan kita, melupakan pertolongan kita, atau bahkan salah memahami niat baik kita. Namun, penilaian manusia bukanlah pembukuan terakhir atas kehidupan seseorang.

Karena itu, lā yuḍī'u, tidak menyia-nyiakan, menjadi kalimat yang sangat kuat. Apa yang tampak hilang dalam pandangan manusia belum tentu hilang dalam perhitungan Allah.

Mengapa yang Disebut Muhsinin?

Ada sesuatu yang indah pada akhir ayat. Allah tidak mengatakan sekadar pahala orang-orang yang bekerja, melainkan pahala al-muhsinīn, orang-orang yang melakukan ihsan.

Ihsan mengandung makna melakukan sesuatu dengan baik dan benar karena kesadaran kepada Allah. Dengan demikian, kesabaran dalam ayat ini bukan kesabaran pasif. Ia adalah kesabaran yang terus menghasilkan kualitas amal.

Seseorang boleh lelah, tetapi ia tidak membiarkan kelelahan membuatnya berlaku zalim. Ia boleh kecewa, tetapi kekecewaan tidak membuatnya meninggalkan kebaikan. Ia boleh tidak mendapatkan penghargaan, tetapi penghargaan manusia tidak menjadi satu-satunya alasan dirinya berbuat baik.

Penafsiran ulama lain juga membantu memperjelas konteks ini. Al-Baghawi, misalnya, menyebut kesabaran dalam ayat tersebut dapat dipahami sebagai kesabaran Nabi Muhammad SAW menghadapi gangguan yang diterimanya. Ada pula penafsiran yang menghubungkannya dengan ketekunan dalam menjalankan shalat.

Maka sabar bukan hanya kemampuan menunggu. Sabar adalah kemampuan mempertahankan arah ketika keadaan mengajak kita menyerah.

Berita Lainnya

Rekomendasi