REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada masa ketika langkah terasa begitu berat. Sesuatu yang telah diperjuangkan dengan sungguh-sungguh berakhir tidak seperti yang diharapkan. Harapan yang semula menyala tiba-tiba meredup. Hati lalu bertanya: masih adakah alasan untuk melanjutkan perjalanan?
Surah Ali ‘Imran ayat 139 hadir di tengah suasana seperti itu. Ayat ini tidak turun kepada orang-orang yang sedang merayakan kemenangan, tetapi menyapa kaum beriman yang baru saja terluka. Karena itu, pesannya bukan motivasi yang kosong. Ia adalah penghiburan dari Allah kepada hamba-hamba yang sedang menghadapi kekalahan, kehilangan, dan kesedihan.
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Wa lā tahinū wa lā taḥzanū wa antumul-a‘launa in kuntum mu’minīn.
Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, sebab kamulah yang paling tinggi derajatnya apabila kamu benar-benar beriman.
Terjemahan tersebut disusun secara mengalir dengan tetap mempertahankan pesan pokok ayat. Terjemahan resmi Kementerian Agama RI berbunyi, “Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.”
Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini berada dalam rangkaian ayat yang berbicara tentang Perang Uhud. Pada perang tersebut, kaum Muslimin mengalami pukulan berat. Sebanyak 70 sahabat gugur, sebagian lainnya terluka, dan Rasulullah SAW pun mengalami cedera.
Kemenangan yang semula tampak dekat berubah menjadi keadaan yang menyakitkan setelah sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi yang telah diperintahkan Rasulullah SAW. Pasukan Muslim kehilangan keteraturan, musuh berbalik menyerang, dan berita keliru tentang wafatnya Rasulullah SAW sempat menyebar di tengah pertempuran.
Ayat ini kemudian hadir sebagai bagian dari penghiburan dan pembinaan Allah kepada kaum Muslimin setelah Perang Uhud. Keterangan Kementerian Agama juga menempatkan ayat-ayat dalam rangkaian tersebut dalam konteks ujian yang membedakan orang beriman, orang munafik, dan mereka yang tetap teguh saat menghadapi keadaan sulit.
Allah tidak menutupi kenyataan bahwa mereka telah terluka. Allah juga tidak meminta mereka berpura-pura tidak bersedih. Akan tetapi, Allah melarang luka itu berubah menjadi kelemahan yang melumpuhkan dan kesedihan yang memadamkan iman.
Kupasan Makna
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini sebagai penghiburan Allah kepada orang-orang beriman setelah mereka mengalami penderitaan pada Perang Uhud. Peristiwa tersebut memang menyisakan luka, kehilangan, dan kesedihan. Akan tetapi, semuanya tidak boleh membuat kaum beriman menyerah atau kehilangan keyakinan kepada pertolongan Allah.
Firman-Nya, “Janganlah kamu merasa lemah,” mengandung larangan agar kaum beriman tidak kehilangan keberanian setelah mengalami kegagalan. Kelemahan yang dimaksud bukan hanya kelemahan fisik, tetapi juga runtuhnya semangat, hilangnya tekad, dan munculnya keinginan untuk meninggalkan perjuangan.
Adapun firman-Nya, “Jangan pula bersedih hati,” bukan berarti manusia dilarang merasakan kesedihan. Kesedihan adalah bagian dari tabiat manusia. Rasulullah SAW pun bersedih ketika kehilangan orang-orang yang dicintainya.