REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada saat dalam hidup ketika jalan di depan terasa semakin sempit. Kita sudah berusaha, sudah berdoa, sudah menyusun banyak rencana, tetapi keadaan justru seperti sebuah lorong gelap yang ujungnya belum kelihatan.
Pada saat seperti itu, ketakutan sering datang bukan karena kita tidak percaya kepada Allah, melainkan karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Hati manusia memang mudah gelisah ketika semua perhitungan yang biasanya menjadi pegangan tiba-tiba tidak lagi mampu memberikan kepastian.
Ada masa ketika kita ingin seseorang mengatakan bahwa semuanya akan segera baik-baik saja. Namun Al-Qur’an mengajarkan ketenangan yang lebih dalam: bukan kepastian bahwa masalah akan segera selesai, melainkan keyakinan bahwa di tengah masalah itu kita tidak pernah sendirian.
Kalimat itu pernah diucapkan Rasulullah SAW dalam keadaan yang jauh dari nyaman. Beliau mengucapkannya ketika sedang diburu, bersembunyi di sebuah gua, dan bahaya secara kasatmata berada sangat dekat.
Allah SWT mengabadikan peristiwa tersebut dalam firman-Nya:
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
illā tanṣurụhu fa qad naṣarahullāhu iż akhrajahullażīna kafarụ ṡāniyaṡnaini iż humā fil-gāri iż yaqụlu liṣāḥibihī lā taḥzan innallāha ma’anā, fa anzalallāhu sakīnatahụ ‘alaihi wa ayyadahụ bijunụdil lam tarauhā wa ja’ala kalimatallażīna kafarus-suflā, wa kalimatullāhi hiyal-‘ulyā, wallāhu ‘azīzun ḥakīm
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS At-Taubah: 40)
Ketika Tidak Ada Lagi Tempat Berlindung
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan manusia tentang pertolongan Allah kepada Rasulullah SAW pada peristiwa hijrah. Ketika kaum musyrikin berencana membunuh, menahan, atau mengusir beliau, Rasulullah meninggalkan Makkah bersama sahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq RA, kemudian keduanya berlindung di Gua Tsur selama tiga hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju Madinah.
Bayangkan suasana itu sebentar. Rasulullah SAW tidak sedang berada di tengah pasukan besar, tidak sedang berada dalam benteng kokoh, dan tidak pula dikelilingi para sahabat yang siap mengangkat senjata.
Beliau hanya bersama Abu Bakar di dalam sebuah gua. Di luar sana, orang-orang yang ingin mencelakakan beliau sedang melakukan pengejaran, sementara jalan menuju Madinah masih panjang.
Secara manusiawi, keadaan itu terasa sangat rapuh. Sebuah gua kecil menjadi batas antara keselamatan dan ancaman yang berada di luar.
Namun justru di tempat yang sempit itulah salah satu kalimat paling menenteramkan dalam Al-Qur’an diucapkan:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Lā taḥzan innallāha ma‘anā.
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Perhatikanlah, Rasulullah SAW tidak mengatakan bahwa orang-orang Quraisy pasti tidak akan mendekat. Beliau juga tidak menjelaskan secara panjang bagaimana mereka akan lolos dari pengejaran itu.
Yang beliau berikan kepada Abu Bakar adalah sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sebuah analisis keadaan. Beliau mengingatkan tentang kehadiran Allah.
Kecemasan Abu Bakar
Menurut penjelasan Ibnu Katsir, Abu Bakar merasa cemas apabila para pengejar menemukan mereka dan kemudian mencelakai Rasulullah SAW. Nabi kemudian menenangkan dan meneguhkannya dengan keyakinan bahwa pertolongan Allah menyertai mereka.
Kecemasan Abu Bakar sangat manusiawi. Ia berada dalam situasi ketika bahaya bukan lagi kemungkinan yang jauh, tetapi sesuatu yang dapat datang kapan saja.
Namun kegelisahan itu juga memperlihatkan betapa besar cintanya kepada Rasulullah. Yang ia khawatirkan bukan sekadar keselamatan dirinya sendiri, tetapi kemungkinan Nabi yang dicintainya mendapatkan gangguan dari orang-orang yang mengejar mereka.
Ibnu Katsir mengaitkan peristiwa itu dengan sabda Nabi yang maknanya sangat masyhur: bagaimana menurutmu tentang dua orang yang Allah bersama keduanya? Keyakinan inilah yang mengubah sebuah gua sempit menjadi tempat yang dipenuhi ketenteraman.
Ada pelajaran yang begitu lembut di sini. Ketenangan ternyata tidak selalu lahir karena ancaman telah pergi, tetapi karena hati menyadari siapa yang bersamanya ketika ancaman itu masih ada.
Allah Tidak Selalu Menghilangkan Gua
Kita sering berdoa agar Allah segera mengeluarkan kita dari keadaan yang sulit. Kita ingin pintu terbuka, utang selesai, pekerjaan datang, kesehatan membaik, persoalan keluarga reda, atau sesuatu yang selama ini membuat dada sesak segera berlalu.
Tetapi kisah Gua Tsur mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kadang Allah tidak langsung mengeluarkan seseorang dari “gua”, tetapi terlebih dahulu menurunkan sakinah ke dalam hatinya ketika ia masih berada di dalamnya.
Allah berfirman sesudah kalimat lā taḥzan innallāha ma‘anā bahwa Dia menurunkan ketenangan dan memberikan pertolongan dengan pasukan yang tidak terlihat. Ibnu Katsir menjelaskan keseluruhan ayat ini sebagai penegasan bahwa Allah adalah penolong, penguat, pencukup, dan penjaga Rasul-Nya.
Inilah sesuatu yang terkadang kita lupakan. Kita terlalu sibuk meminta agar keadaan berubah hingga lupa meminta agar hati kita dikuatkan untuk melewati keadaan itu.
Padahal tidak semua badai harus segera berhenti agar seseorang memperoleh ketenangan. Ada pelaut yang tetap tenang di tengah ombak karena ia tahu kapalnya memiliki arah dan ia percaya kepada siapa yang memegang kendali perjalanan.