REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di Gaza, kehilangan belum berhenti. Rumah, anggota keluarga, pekerjaan, dan kehidupan yang pernah dianggap biasa telah menjadi sesuatu yang dapat hilang dalam hitungan detik. Bahkan setelah gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat berlaku sejak Oktober 2025, kematian masih terjadi.
Serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Selasa (15/9/2026) menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, termasuk dua anak dan seorang komandan Hamas, menurut pejabat kesehatan dan sumber Hamas sebagaimana dilaporkan Reuters, Selasa, 15 September 2026. Serangan terjadi di Gaza bagian utara dan selatan.
Di kawasan Sheikh Radwan, Gaza utara, serangan terhadap sebuah kendaraan menewaskan sedikitnya dua orang, termasuk seorang anak, dan melukai tujuh lainnya. Saksi mengatakan sebagian korban terkena serangan kedua setelah sejumlah orang mendatangi lokasi untuk memberikan pertolongan. Militer Israel mengatakan telah menyerang seorang militan di kawasan tersebut tanpa memberikan perincian lebih lanjut.
Serangan terpisah mengenai kawasan tenda pengungsi di Mawasi, Khan Younis. Seorang pria dan anak perempuan berusia delapan tahun dilaporkan tewas, sedangkan 14 orang lainnya terluka. Dalam insiden lain di Jabalia, organisasi kesehatan Medical Aid for Palestinians mengatakan seorang pasien di pusat kesehatan yang didukung organisasi tersebut tewas ditembak drone quadcopter militer Israel. Belum ada komentar langsung Israel mengenai insiden di pusat kesehatan tersebut.
Gencatan senjata ternyata belum sepenuhnya mengakhiri kehilangan. Reuters melaporkan lebih dari 1.300 warga Palestina telah terbunuh sejak gencatan senjata Oktober 2025 berlaku, sementara empat tentara Israel juga tewas dalam periode tersebut. Israel dan Hamas saling menuduh melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan.
Di tengah kenyataan tentang manusia yang kehilangan orang-orang tercinta, rumah, dan rasa aman, pesan Al-Qur'an mengenai cara menghadapi sesuatu yang telah luput terasa relevan untuk direnungkan. Allah SWT mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki kuasa untuk mempertahankan semua yang dicintainya selamanya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 23:
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Likailā ta'sau 'alā mā fātakum wa lā tafraḥū bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr.
Artinya: “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid: 23).
Kesedihan Bukan Keputusasaan
Surah Al-Hadid ayat 23 tidak berdiri sendiri. Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa tidak ada musibah yang menimpa bumi maupun manusia kecuali telah tertulis dalam ketetapan Allah sebelum diwujudkan. Sesudah menjelaskan ketetapan tersebut, Allah menerangkan salah satu hikmahnya: agar manusia tidak tenggelam dalam kesedihan atas sesuatu yang telah luput dan tidak menjadi sombong karena sesuatu yang diperolehnya.
Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa Allah memberitahukan perkara tersebut agar menjadi kaidah yang melekat dalam hati hamba-Nya. Dengan memahami bahwa segala sesuatu berada dalam ilmu dan ketetapan Allah, manusia tidak seharusnya tenggelam dalam keputusasaan atas sesuatu yang telah terlepas darinya.
Pesan tersebut tidak berarti Islam melarang kesedihan. Kehilangan orang tua, anak, pasangan, saudara, rumah, atau sesuatu yang dicintai tentu menimbulkan duka. Nabi Ya'qub AS bahkan mengalami kesedihan mendalam ketika berpisah dengan Nabi Yusuf AS.
Yang dijaga adalah agar kesedihan tidak berubah menjadi keputusasaan kepada Allah. Seorang mukmin dapat menangis karena kehilangan, tetapi di balik tangisannya masih tersimpan keyakinan bahwa ketetapan Allah melampaui pengetahuan manusia.
Dalam konteks Gaza, pemaknaan ini penting. Ayat tersebut tidak patut digunakan untuk mengecilkan penderitaan korban perang atau meminta mereka berhenti berduka. Sebaliknya, ayat itu memberikan landasan spiritual bahwa bahkan ketika kehilangan terasa begitu berat, harapan kepada Allah tidak harus ikut terkubur bersama sesuatu yang telah hilang.