REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Ketika Maryam melahirkan Isa ‘alaihissalam dan membawanya kepada kaumnya, mereka mengingkari dan mencela perbuatannya.
Mereka bahkan menuduh Maryam telah melakukan perzinaan. Maryam kemudian menunjuk kepada Isa agar ia sendiri yang berbicara dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Isa ‘alaihissalam pun memulai perkataannya dengan menegaskan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan dan satu-satunya sesembahan yang benar.
Tidak ada seorang pun yang menjadi sekutu-Nya dalam uluhiyah maupun rububiyah. Ia juga menegaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah, seorang makhluk yang diciptakan oleh-Nya dengan penciptaan yang istimewa sebagai sebuah mukjizat, tanpa seorang ayah. Ia adalah hamba Allah, bukan sekutu bagi-Nya dan bukan pula anak-Nya.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Adhim menyatakan, hal pertama yang diucapkannya adalah menyucikan dan menafikan segala sesuatu yang tidak layak bagi Rabb-nya Ta‘ala, yaitu anggapan bahwa Allah mempunyai anak, sekaligus menegaskan bahwa dirinya adalah hamba Rabb-nya.”
Allah semata adalah Rabb dan Tuhan. Adapun selain-Nya, semuanya adalah hamba-Nya. Mencampuradukkan kedudukan antara Tuhan dan hamba merupakan kekufuran dan kesyirikan kepada Allah.
Apabila seseorang mengangkat salah satu hamba Allah hingga menjadikannya tandingan bagi Allah, maka ia telah melakukan kekufuran dan kesyirikan kepada-Nya.
Inilah dasar keimanan yang disampaikan oleh Isa ‘alaihissalam sejak masih berada di dalam buaian. Ia menegaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah dan bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb dan Tuhan.
Pernyataan ini menjadi bantahan sejak awal terhadap apa yang kemudian akan diklaim oleh sebagian manusia, yaitu bahwa Isa adalah anak Allah.