Doa Mustajab Jumat Sore

Rep: Rossi Handayani/ Red: Muhammad Hafil

 Jumat 30 Sep 2022 14:15 WIB

Doa Mustajab Jumat Sore. Foto:  Berdoa (Ilustrasi) Foto: Republika/Thoudy Badai Doa Mustajab Jumat Sore. Foto: Berdoa (Ilustrasi)

Doa Jumat sore merupakan waktu mustajab.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Terdapat beberapa waktu Mustajab yang dapat membuat terkabulnya doa. Salah satu waktunya yakni pada Jumat sore.

Dikutip dari Buku Aneh dan Lucu, 100 Kisah Menarik Penuh Ibrah karya Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, Ibnu Asakir menyebutkan dalam kitabnya Tarikh Dimsyaq 64/140;

Baca Juga

Sholt bin Busthom terkena buta mata. Suatu sore jumat, para sahabatnya duduk mendoakan untuknya. Sebelum matahari tenggelam, dia lalu bersin dan kembali penglihatannya.

Kisah ini memberikan pelajaran, di antaranya: Tidak ada penyakit yang tidak bisa sembuh. Semuanya mudah bagi Allah, Pentingnya doa sahabat untuk sahabatnya, Jumat sore adalah waktu istimewa untuk berdoa.

Sementara dalam Ad-Daa wad Dawaa, doa akan dikabulkan jika di dalamnya terkumpul kehadiran hati, konsentrasi secara penuh terhadap apa yang diminta, dan bertepatan dengan salah satu dari enam waktu dikabulkannya doa. Selain sehabis ashar pada Jumat, waktu lainnya di antaranya, Sepertiga malam terakhir, Saat adzan dan sesudahnya, Antara adzan dan iqamat, Setelah melaksanakan shalat wajib, Saat imam naik ke atas mimbar pada hari Jumat, hingga selesainya sholat Jumat tersebut.

Seorang yang berdoa hendaknya menghadap ke arah kiblat, dalam keadaan suci, mengangkat kedua tangan ke langit. Kemudian memulai doanya dengan hamdalah, memuji Allah dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad selaku hamba dan utusan-Nya, mendahulukan taubat dan istighfar sebelum menyebutkan hajatnya.

Terlebih lagi jika doa tersebut termasuk doa-doa yang bersumber dari Nabi, yang beliau sendiri mengabarkan bahwa doa ini atau doa yang mengandung nama Allah yang paling agung (Asmaul Husna) pasti akan diterima. Di antara doa yang dimaksud adalah seperti yang diriwayatkan dalam as-Sunan dan Shahih Ibnu Hibban dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, bahwasanya Rasulullah pernah mendengar seseorang sedang berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Allâhumma innî as’aluka bi annî asyhadu annaka antallâhu, lâ ilâha illâ antal ahadus shamad, alladzî lam yalid wa lam yûlad, wa lam yakullahû kufuwan ahad.

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu atas dasar persaksianku bahwa Engkau adalah Allah. Tiada yang berhak diibadahi kecuali Engkau. Yang Mahatunggal, Yang bergantung pada-Nya segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta Yang tiada sesuatu yang setara dengan-Nya"

Nabi ﷺ lalu bersabda,

"Orang itu memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang agung. Jika nama-Nya itu digunakan untuk meminta, niscaya akan diberi, dan jika digunakan untuk berdoa, niscaya dikabulkan".

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id