REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada penyesalan yang masih dapat diperbaiki. Kita menyadari kesalahan, meminta maaf, lalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Waktu masih memberi ruang untuk berubah, dan Allah masih membuka pintu ampunan bagi siapa pun yang kembali kepada-Nya dengan tulus.
Namun Alquran juga mengingatkan adanya penyesalan yang datang ketika seluruh kesempatan telah habis. Bukan karena Allah tidak Maha Pengampun, melainkan karena manusia memilih menunda hingga perjalanan hidup benar-benar berakhir. Saat itu, yang tersisa hanyalah pengakuan yang tak lagi mampu mengubah keputusan Allah.
Surah Al-Mu'min ayat 11 membawa kita menyaksikan salah satu dialog paling menyayat pada Hari Kiamat. Orang-orang yang dahulu mengingkari Allah akhirnya mengakui seluruh dosa mereka. Tidak ada lagi pembelaan, tidak ada lagi alasan, tidak ada lagi kesombongan. Yang tersisa hanyalah sebuah permohonan yang lahir terlambat: adakah jalan untuk kembali?
Firman Allah SWT
قَالُوا۟ رَبَّنَآ أَمَتَّنَا ٱثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا ٱثْنَتَيْنِ فَٱعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ
Qālū rabbanā amattanā itsnataini wa aḥyaitanā itsnataini fa'tarafnā biżunūbinā fa hal ilā khurūjim min sabīl.
"Mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali. Lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan bagi kami untuk keluar (dari neraka)?'" (QS Al-Mu'min [40]: 11)
Asbabun Nuzul
Ayat ini dipahami sebagai bagian dari rangkaian penjelasan Allah tentang keadaan orang-orang kafir pada Hari Kiamat, ketika mereka menyaksikan azab yang telah dijanjikan dan tidak lagi mampu mengingkari kebenaran.
Dalam kajian tafsir, sikap ilmiah yang tepat adalah tidak mengaitkan ayat dengan kisah tertentu apabila tidak terdapat riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, makna ayat ini dipahami berdasarkan konteks keseluruhan Surah Al-Mu'min yang berbicara tentang hari pembalasan, keadilan Allah, dan akibat dari penolakan terhadap kebenaran.
Kupasan Makna (Merujuk Tafsir Ibnu Katsir)
Ayat ini dimulai dengan pengakuan yang sangat dalam.
"Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali."
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pendapat yang paling kuat berasal dari Abdullah bin Mas'ud dan Abdullah bin Abbas. Yang dimaksud dengan dua kematian adalah keadaan manusia sebelum diciptakan, ketika ia belum memiliki kehidupan sama sekali—kemudian kematian setelah kehidupan dunia berakhir. Sedangkan dua kehidupan adalah kehidupan di dunia dan kehidupan setelah dibangkitkan pada Hari Kiamat.
Penafsiran ini diperkuat oleh firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 28:
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, kemudian Dia menghidupkan kamu kembali, lalu kepada-Nya kamu dikembalikan."