Rabu 09 Sep 2026 00:07 WIB

Dosa Terus-menerus Merusak Akal dan Membuat Hati Berkarat

Penjelasan ini mengingatkan dampak kemaksiatan terhadap akal dan hati manusia.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Ani Nursalikah
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: Dosa Terus-menerus Merusak Akal dan Membuat Hati Berkarat
Foto: Dok. Magnific
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: Dosa Terus-menerus Merusak Akal dan Membuat Hati Berkarat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Maksiat bukan hanya berdampak pada perilaku seseorang, tetapi juga dapat merusak akal dan hati. Ketika seseorang terus-menerus melakukan kemaksiatan, cahaya akalnya semakin redup hingga melemahkan kemampuan untuk menolak dosa karena akal sehat telah rusak.

Pada saat yang sama, dosa demi dosa yang dilakukan membuat hati berkarat, menutupinya dari petunjuk, dan pada akhirnya dapat menyeret seseorang dalam kendali setan.

Baca Juga

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ad-Da' wa ad-Dawa menerangkan bahwa kemaksiatan merusak akal. Akal adalah cahaya, dan kemaksiatan mematikan sinar tersebut. Jika sinar cahaya padam, lemahlah kalbu manusia.

Sebagian orang salaf berkata, "Tiada seorang pun yang melanggar perintah Allah kecuali karena akalnya berkurang."

Jelas saja, sebab jika akalnya sempurna, pada saat berhadapan dengan maksiat, tentulah ia akan meninggalkan maksiat tersebut. Ia berada dalam genggaman Allah Yang Maha Memelihara. Allah selalu melihat dan memantaunya saat ia berada dalam rumah atau dalam setiap aktivitasnya. Malaikat pun ikut menyaksikan.

Alquran menasihati dengan melarangnya, kematian menasihati dan melarangnya, neraka menasihati dan melarangnya. Yang banyak menghapus kebaikan dunia dan akhirat adalah kenikmatan dan kesenangan dengan berbuat maksiat. Apakah orang yang berakal sehat akan mendatangi kehinaan ini?

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi