Rabu 06 May 2026 04:11 WIB

Ketika Allah Membongkar Cara Berpikir Kaum Kafir

Ayat ini hadir sebagai bantahan terhadap keyakinan kaum musyrik.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi ngaji Alquran.
Foto: EPA/HAITHAM IMAD
Ilustrasi ngaji Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kalanya Aquran tidak datang dengan jawaban panjang, tetapi dengan satu pertanyaan yang menampar kesadaran. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membangunkan.

أَوَمَن يُنَشَّؤُا۟ فِى ٱلْحِلْيَةِ وَهُوَ فِى ٱلْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ

Baca Juga

a wa may yunasysya`u fil-ḥilyati wa huwa fil-khiṣāmi gairu mubīn

“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.”

Ayat ini terdengar seperti sebuah penilaian. Padahal, ia adalah cermin. Ia tidak sedang berbicara tentang siapa yang lemah dan siapa yang kuat. Ia sedang menyingkap cara berpikir manusia, yang kadang tidak jujur terhadap dirinya sendiri.

Dalam tafsir Mafātīḥ al-Ghayb, Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa ayat ini hadir sebagai bantahan terhadap keyakinan kaum musyrik yang menyebut malaikat sebagai “anak perempuan Allah”, sementara mereka sendiri memandang rendah anak perempuan. Sebuah paradoks yang sunyi, tetapi dalam.

Mereka menolak sesuatu untuk diri mereka, tetapi memberikannya kepada Tuhan. Seolah-olah Tuhan layak menerima apa yang mereka sendiri enggan miliki.

Di sinilah Alquran tidak membantah dengan panjang. Ia hanya bertanya. Dan pertanyaan itu seperti cahaya yang masuk ke ruangan gelap, tidak memaksa, tetapi membuat segala sesuatu terlihat.

Kata yunashsha’u fil-ḥilyah, dibesarkan dalam perhiasan, oleh ar-Razi dipahami sebagai gambaran tentang kelembutan yang diasosiasikan dalam budaya saat itu. Bukan hakikat, tetapi persepsi. Bukan kebenaran mutlak, tetapi konstruksi sosial yang mereka yakini.

Lalu ditambah dengan “fil-khiṣām ghair mubīn”, tidak jelas dalam perdebatan. Sebuah label yang mereka sematkan sendiri.

Dan justru dari label itulah Alquran  membangun kritiknya. Seolah berkata: “Jika menurut kalian demikian, mengapa kalian menisbatkannya kepada Allah?”

Di titik ini, ayat ini berubah dari sekadar teks menjadi cermin logika. Ia mengajak manusia melihat ke dalam, bukan kepada perempuan, bukan kepada orang lain, tetapi kepada dirinya sendiri.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement