Selasa 28 Apr 2026 07:06 WIB

Kendaraan, Jalan, dan Rahasia Pulang

Setiap perpindahan adalah pengingat tentang siapa yang sesungguhnya menggerakkan.

Jamaah calon haji berdoa saat mengikuti acara pelepasan dengan tradisi adat kesultanan di Kedaton Kesultanan Ternate, Maluku Utara, Senin (27/8/2026). Pelepasan secara adat sebanyak 568 calon jamaah haji yang tergabung dalam Kloter 13 Embarkasi Makassar itu untuk mendoakan keselamatan perjalanan menuju Arab Saudi, hingga kembali ke Ternate dalam kondisi sehat serta dapat melaksanakan ibadah haji dengan lancar.
Foto: ANTARA FOTO/Andri Saputra
Jamaah calon haji berdoa saat mengikuti acara pelepasan dengan tradisi adat kesultanan di Kedaton Kesultanan Ternate, Maluku Utara, Senin (27/8/2026). Pelepasan secara adat sebanyak 568 calon jamaah haji yang tergabung dalam Kloter 13 Embarkasi Makassar itu untuk mendoakan keselamatan perjalanan menuju Arab Saudi, hingga kembali ke Ternate dalam kondisi sehat serta dapat melaksanakan ibadah haji dengan lancar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada momen-momen sederhana yang sering kita anggap remeh: duduk di dalam kendaraan, menatap jalan yang terbentang, lalu bergerak menuju tujuan. Padahal, di balik gerak yang terasa biasa itu, ada ibrah yang begitu dalam, tentang kuasa, ketundukan, dan kepulangan.

Allah mengabadikan momen itu dalam Surah az-Zukhruf berikut ini:

Baca Juga

وَٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلْفُلْكِ وَٱلْأَنْعَٰمِ مَا تَرْكَبُونَ (12)

لِتَسْتَوُوا۟ عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ ثُمَّ تَذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا ٱسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا۟ سُبْحَٰنَ ٱلَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقْرِنِينَ (13)

وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ (14)

Walladzī khalaqal-azwāja kullahā wa ja‘ala lakum minal-fulki wal-an‘āmi mā tarkabūn.

Litastawū ‘alā ẓuhūrihī tsumma tadzkurū ni‘mata rabbikum idzastawaitum ‘alaihi wa taqūlū subḥānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn.

Wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.

“Dia yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Agar kamu duduk di atasnya, kemudian kamu mengingat nikmat Tuhanmu ketika kamu telah duduk di atasnya, dan kamu mengucapkan: ‘Mahasuci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.’ Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali.”

Ayat ini tidak sekadar mengajarkan doa perjalanan. Ia seperti mengetuk pelan kesadaran kita: bahwa setiap perpindahan adalah pengingat tentang siapa yang sesungguhnya menggerakkan.

Kita sering merasa mengendalikan, kemudi di tangan, arah di kepala, tujuan di depan mata. Namun Alquran menyelipkan satu kalimat yang meruntuhkan rasa kuasa itu: “wa mā kunnā lahū muqrinīn”, kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menaklukkannya.

Di situlah ibrah pertama: manusia berjalan di atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia kuasai. Bukan hanya kendaraan, tetapi juga hidup itu sendiri.

Imam Fakhruddin ar-Razi, dalam tafsirnya Mafātīḥ al-Ghaib, melihat ayat ini sebagai pengalihan kesadaran dari yang kasat mata menuju yang hakiki. Menurutnya, penyebutan “kendaraan” bukan sekadar soal fungsi, tetapi tentang tasḫīr, penundukan alam oleh kehendak Allah. Seekor hewan yang secara fisik lebih kuat dari manusia, atau lautan yang jauh lebih luas dari tubuh kita, semuanya tunduk bukan karena manusia hebat, tetapi karena Allah menundukkannya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement