REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada satu kisah yang tidak pernah benar-benar selesai diceritakan, kisah ketika manusia pertama kali menapakkan kaki di bumi. Bukan dalam kemegahan, bukan dalam kemenangan, melainkan dalam keterpisahan yang panjang dan kesadaran yang tumbuh perlahan. Kisah itu bermula dari sebuah tergelincir, dan berakhir, atau tepatnya dimulai kembali, di sebuah tempat bernama Arafah.
Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 36 menggambarkan momen itu dengan cara yang tidak sekadar bercerita:
فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيْطَٰنُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ
Fa azallahumasy-syaiṭānu ‘an-hā fa akhrajahumā mimmā kānā fīhi wa qulnahbiṭụ ba’ḍukum liba’ḍin ‘aduww, wa lakum fil-arḍi mustaqarruw wa matā’un ilā ḥīn
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”.
Dalam Mafatih al-Ghayb, Fakhruddin ar-Razi membaca ayat ini bukan sebagai kisah kejatuhan yang membinasakan, melainkan awal dari misi besar kemanusiaan. Sebuah pembacaan yang mengangkat, bukan menghakimi.
Tergelincir, Bukan Hancur
Ar-Razi memulai dengan menyoroti kata "fa azallahumā", setan menggelincirkan keduanya. Kata itu, menurutnya, tidak menunjukkan pemaksaan. Ia menggambarkan penggeseran halus dari kebenaran menuju kekeliruan. Setan tidak menciptakan dosa, tetapi memanfaatkan celah dalam kehendak manusia yang bebas.
Di sini manusia tidak digambarkan sebagai korban yang tak berdaya, melainkan sebagai makhluk yang memiliki kehendak dan menanggung konsekuensinya. Kesalahan yang terjadi bukan kehancuran takdir, tetapi bagian dari proses belajar yang panjang. Ar-Razi melihatnya sebagai bukti bahwa manusia diberi ruang untuk memilih, dan dari pilihan itulah makna hidup terbentuk.
Surga adalah ruang kenyamanan tanpa beban. Sementara bumi adalah ruang ujian, tempat manusia harus bekerja, berjuang, dan bertanggung jawab. Ketika Adam dan Hawa "dikeluarkan dari keadaan semula", itu bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah perubahan kondisi eksistensial, dari fase ketergantungan menuju fase kemandirian. Kehidupan dunia, dalam perspektif ini, bukanlah hukuman semata, melainkan arena pembuktian.
Keterpisahan yang Mengajarkan
Alquran tidak merinci di mana Nabi Adam dan Hawa diturunkan. Namun dalam riwayat para sahabat, tabi'in, dan tafsir klasik seperti Tafsir al-Tabari dan Tafsir Ibn Katsir, kisah itu menemukan bentuk naratifnya. Nabi Adam diturunkan di kawasan yang oleh sebagian riwayat disebut sebagai India atau Sarandib. Sementara Hawa diturunkan di wilayah yang kini dikenal sebagai Jeddah. Dua titik yang berjauhan, dua manusia yang terpisah tanpa arah.
Bayangkan keadaan itu. Dua manusia yang sebelumnya hidup bersama dalam satu ruang, tiba-tiba terpisah di bumi yang asing, luas, dan sunyi. Dalam sejumlah atsar disebutkan, Adam berjalan panjang, mencari, sambil membawa penyesalan yang dalam.