Kamis 07 May 2026 14:34 WIB

Sajak Hati yang Tahu Arah Namun Enggan Pulang

Manusia pun akan kembali ke asalnya.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Santriwati tahfidz memeluk Alquran di Pusat Penghafalan Alquran Al-Nour di kota Khan Yunis, Jalur Gaza, Ahad (3/5/2026).
Foto: EPA/HAITHAM IMAD
Santriwati tahfidz memeluk Alquran di Pusat Penghafalan Alquran Al-Nour di kota Khan Yunis, Jalur Gaza, Ahad (3/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada satu ironi sunyi yang sering luput dari perhatian manusia: ia tahu, tetapi tidak tunduk. Ia mengakui, tetapi tidak berserah.

Alquran menangkap ironi itu dengan kalimat yang sederhana, namun menggugah kesadaran:

Baca Juga

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ ٱلْعَزِيزُ ٱلْعَلِيمُ

wa lain saaltahum man khalaqas-samāwāti wal-arḍa layaqụlunna khalaqahunnal-‘azīzul-‘alīm

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.”

Dalam tafsir Mafātīḥ al-Ghayb, Fakhruddin ar-Razi melihat ayat ini sebagai cermin paradoks manusia. Mereka tidak menolak Tuhan secara total, bahkan mengakuinya. Tetapi pengakuan itu berhenti di lisan, tidak menembus ke dalam hati yang tunduk.

Seperti seseorang yang berdiri di bawah langit luas, mengakui kebesarannya, tetapi tetap berjalan tanpa arah. Ia tahu siapa yang menciptakan, tetapi tidak tahu bagaimana harus kembali.

Lalu Alquran mengajak manusia melihat lebih dekat, bukan ke langit yang jauh, tetapi ke bumi yang dipijaknya:

ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

allażī ja’ala lakumul-arḍa mahdaw wa ja’ala lakum fīhā subulal la’allakum tahtadụn

“Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.”

Ar-Razi memaknai kata mahd sebagai hamparan yang lembut, seperti buaian. Bumi bukan sekadar tempat tinggal, tetapi tempat yang “menidurkan” kegelisahan manusia, memberi rasa aman untuk hidup dan tumbuh.

Namun, di atas buaian itu, Allah juga membuat subul, jalan-jalan. Jalan fisik, tetapi juga jalan makna. Jalan menuju tujuan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement