REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di Mina, jutaan tangan menggenggam kerikil kecil. Batu-batu itu ringan, nyaris tak berarti. Namun selama berabad-abad, manusia terus membawanya dengan penuh kesungguhan, lalu melemparkannya ke arah jumrah sambil bertakbir. Dari jauh, ritual itu tampak sederhana. Hanya lemparan batu. Hanya beberapa langkah kaki. Hanya gerakan yang berlangsung beberapa detik.
Tetapi sejarah spiritual umat manusia mengajarkan bahwa terkadang pertempuran terbesar memang tidak pernah terlihat oleh mata.
Dalam sejumlah riwayat yang dinukil oleh para ulama sejarah Makkah, di antaranya dalam Akhbār Makkah karya Al-Azraqi dan Al-Fakihi, disebutkan bahwa ketika Nabi Ibrahim AS menjalankan perintah Allah untuk mengorbankan putranya, Ismail AS, setan datang berulang kali untuk menggoyahkan tekadnya. Di setiap tempat itu, Ibrahim mengambil kerikil lalu melemparnya hingga setan terusir.
Riwayat yang sering dikutip berbunyi:
جَاءَ الشَّيْطَانُ إِلَى إِبْرَاهِيمَ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الْأُولَى فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ
Jā'a asy-syaithānu ilā Ibrāhīma 'inda al-jamrati al-ūlā faramāhu bisab'i hashayātin hattā sākha fil-ardh.
"Setan datang kepada Ibrahim di tempat jumrah pertama, lalu Ibrahim melemparnya dengan tujuh kerikil hingga setan tenggelam ke dalam bumi."
Riwayat serupa kemudian menyebutkan bahwa setan kembali muncul di jumrah kedua dan ketiga, namun setiap kali itu pula Ibrahim mengusirnya dengan lemparan kerikil dan keteguhan hati.
Yang lebih penting adalah pesan yang ditinggalkannya bagi manusia sepanjang zaman. Sebab setan yang datang kepada Ibrahim bukanlah makhluk yang menawarkan kejahatan secara terang-terangan. Ia datang membawa alasan yang terdengar masuk akal. Ia menawarkan keraguan. Ia membisikkan rasa takut. Ia mencoba membuat Ibrahim menunda ketaatan atas nama pertimbangan yang tampak rasional. Bukankah demikian pula godaan yang datang kepada manusia hari ini?
Jarang sekali keburukan datang dengan wajah yang menakutkan. Ia justru hadir dengan wajah yang akrab. Kesombongan datang atas nama harga diri. Ketamakan datang atas nama masa depan. Kebencian datang atas nama keadilan. Kemalasan datang atas nama istirahat. Dan dosa sering kali datang dengan alasan yang terdengar begitu masuk akal.
Karena itu, ketika seorang jamaah melontar jumrah, sesungguhnya ia sedang berdiri di hadapan cermin dirinya sendiri.
Kerikil yang dilempar itu mungkin tidak akan mengenai setan yang kasat mata. Namun setiap lemparan seharusnya diarahkan kepada kesombongan yang selama ini dipelihara. Kepada amarah yang sulit dikendalikan. Kepada iri hati yang diam-diam menggerogoti hati. Kepada kebiasaan buruk yang terus dicari pembenarannya. Itulah sebabnya kerikil yang digunakan begitu kecil.