REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Meminjam istilah Ibnu al-Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad, perang melawan godaan setan adalah termasuk perang sepanjang hayat, di samping perang melawan hawa nafsu atau musuh Islam yang kasat mata.
Perang melawan setan adalah perang sunyi, yang banyak dilupakan banyak orang, mereka terbuai, hingga masuk dalam perangkap.
Perang yang dilancarkan setan jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan banyak orang. Sebab, ia tidak datang dengan paksaan, kekerasan, atau ancaman terbuka.
Ia datang mengikuti hawa nafsu dan syahwat manusia, melalui jalan-jalan yang lembut: penyesatan, rayuan, penghiasan keburukan, serta angan-angan palsu.
Dengan cara-cara halus itulah setan berusaha mengubah keyakinan, prinsip hidup, dan nilai-nilai seseorang. Manusia bisa berpindah dari satu prinsip kepada prinsip lain, dari satu akidah kepada akidah yang berbeda, bahkan dari satu sistem nilai kepada sistem nilai yang bertentangan dengan ajaran Allah SWT.
Hakikat perang halus ini adalah perang yang menargetkan akal, pemikiran, dan cara pandang manusia.
Tujuannya bukan sekadar membuat manusia melakukan kesalahan, tetapi mengubah keyakinannya sehingga ia sendiri yang menjalankan rencana musuh-musuhnya tanpa merasa sedang dimanfaatkan.
Akibatnya, seseorang dapat berubah menjadi pelayan kepentingan yang merusak dirinya, masyarakatnya, agamanya, bahkan bangsanya, sementara ia merasa sedang melakukan sesuatu yang benar.
Karena itulah bahaya perang halus jauh lebih besar, alat-alatnya lebih berbahaya, dan dampaknya lebih buruk dibandingkan perang fisik yang terlihat oleh mata.