Naskah Khutbah Jumat: Beragama tanpa Paksaan

Red: Ani Nursalikah

 Kamis 22 Sep 2022 17:45 WIB

Naskah Khutbah Jumat: Beragama tanpa Paksaan Foto:

Tidak ada paksaan dalam Islam.

Selain itu, dalam QS. Al-Kahfi: 29, Allah SwT juga memaklumkan:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir“. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Manakala hendak beriman, maka itu menjadi kebaikan dan keselamatan untuknya, dan ia telah memilih satu pilihan yang benar. Namun jika ia memilih kafir, maka ia telah memilih satu pilihan yang mendzalimi dirinya sendiri. Allah SwT kemudian memberikan ancaman atau peringatan serta petunjuk agar jangan sampai salah memilih. Sebab jika salah memilih, maka yang akan ia dapati ialah api neraka, dan siksaan yang pedih, serta seburuk-buruk tempat kembali.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (QS. ‘Ali Imran: 85).

Bahkan dalam sirah Nabi, kita belajar bahwa Nabi Muhammad saw bukanlah orang yang memaksakan agama pada orang lain. Baginda Nabi rela menerima perjanjian dengan kaum kafir Quraisy setelah beliau hijrah ke Madinah, bahwa manakala ada di antara penduduk Mekkah (yang saat itu masih dikuasai oleh kafir Quraisy) datang ke Madinah untuk menyatakan keimanannya, maka Nabi harus mengembalikannya ke Mekkah. Namun jika ada di antara penduduk Madinah yang pergi ke Mekkah (murtad) maka ia tidak wajib dikembalikan ke Madinah.

Nabi tidak memaksa, iman lahir dan tumbuh dari dalam jiwa setelah Allah SwT memberikan hidayah, kemudian dirawatnya hidayah itu dengan ilmu dan membersihkan diri dari segala pengaruh thaghut (pelanggaran-pelanggaran besar).

Keempat, hikmah berikutnya yakni, bahwa Islam diturunkan oleh Allah SwT untuk menjadi rahmat, bentuk kasih sayang-Nya untuk mengatur, mengarahkan, membimbing, dan menunjukkan kita agar selamat dunia kahirat.

بَارَكَ الله ُلِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ  وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ

sumber : https://suaramuhammadiyah.id/2022/09/08/beragama-tanpa-paksaan/
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini