Tafsir Surat Al Muminun Ayat 62: Manusia tidak Diberi Beban Melebihi Kemampuannya

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah

 Selasa 16 Aug 2022 22:05 WIB

Tafsir Surat Al Muminun Ayat 62: Manusia tidak Diberi Beban Melebihi Kemampuannya Foto: EPA-EFE/HOTLI SIMANJUNTAK Tafsir Surat Al Muminun Ayat 62: Manusia tidak Diberi Beban Melebihi Kemampuannya

Melaksanakan perintah Allah SWT pastilah untuk kebaikan manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran menjelaskan manusia tidak akan diberi beban oleh Allah SWT melebihi kemampuan seorang manusia menanggung beban tersebut. Artinya, Allah SWT tidak akan membebani seseorang dengan suatu kewajiban atau perintah kecuali perintah itu sanggup dilaksanakannya dan dalam batas-batas kemampuannya.

Hal yang harus dipahami bahwa melaksanakan perintah Allah SWT pastilah untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Hal ini dijelaskan dalam tafsir dari Surah Al-Muminun Ayat 62.

Baca Juga

وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۖ وَلَدَيْنَا كِتٰبٌ يَّنْطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

Kami tidak membebani seorang pun, kecuali menurut kesanggupannya. Pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya dan mereka tidak dizalimi. (QS Al-Muminun: 62).

Dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, pada ayat ini Allah menjelaskan sudah menjadi sunnah dan ketetapan-Nya, Dia tidak akan membebani seseorang dengan suatu kewajiban atau perintah kecuali perintah itu sanggup dilaksanakannya dan dalam batas-batas kemampuannya. Tidak ada syariat yang diwajibkan-Nya yang berat dilaksanakan oleh hamba-Nya dan di luar batas kemampuannya.

Hanya manusialah yang memandangnya berat karena keengganannya atau ia disibukkan oleh urusan dunianya atau tugas tersebut menghalanginya dari melaksanakan keinginannya. Padahal perintah itu, seperti sholat misalnya sangat ringan dan mudah bagi orang yang telah biasa mengerjakannya, bahkan sholat itu pun dapat meringankan beban dan tekanan hidup yang dideritanya bila ia benar-benar mengerjakannya dengan tekun dan khusyuk.

Muqatil berkata, "Barang siapa tidak sanggup mengerjakan sholat dengan berdiri ia boleh mengerjakannya dalam keadaan duduk, dan kalaupun tidak sanggup duduk maka dengan isyarat saja pun sudah cukup.”

Karena itu tidak ada alasan sama sekali bagi orang mukmin untuk membebaskan diri dari kewajiban sholat, demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya, karena semua kewajiban itu adalah dalam batas-batas kemampuannya.

Hanya nafsu dan keinginan manusialah yang menjadikan kewajiban-kewajiban itu berat baginya. Maka orang yang seperti ini telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri dan akan mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan atas keingkaran dan keengganannya.

Setiap pelanggaran terhadap perintah Allah akan dicatat dalam buku catatan amalnya, demikian pula amal perbuatan yang baik, kecil maupun besar semuanya tercatat dalam buku itu sebagaimana tersebut dalam firman-Nya.

(Allah berfirman), "Inilah Kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (Al-Jasiyah: 29)

"Dan diletakkan lah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, 'Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,' dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun." (Al-Kahf: 49)

Mereka akan diberi balasan sesuai dengan perbuatannya yang tertera dalam buku catatan itu dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id