REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada hati yang tidak mati karena dosa besar, tetapi perlahan mengeras karena terlalu lama melupakan Allah.
Zikir adalah napas ruhani seorang mukmin. Ia bukan sekadar rangkaian lafaz yang dibaca setelah shalat, bukan pula hanya wirid yang diucapkan dalam hitungan tertentu. Zikir adalah cara seorang hamba menjaga hubungan paling dalam dengan Tuhannya di tengah kesibukan dunia yang terus menarik hati ke berbagai arah.
Karena itu, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk banyak mengingat-Nya. Dalam Alquran, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Yā ayyuhalladzīna āmanudzkurullāha dzikran katsīrā.
"Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS Al-Ahzab: 41)
Perintah ini menunjukkan bahwa zikir bukan amalan pinggiran dalam kehidupan seorang Muslim. Ia adalah pusat kesadaran. Dengan zikir, manusia mengingat dari mana ia berasal, kepada siapa ia bergantung, dan ke mana seluruh perjalanan hidupnya akan kembali.
Allah SWT juga menjelaskan bahwa ketenteraman hati tidak lahir semata-mata dari harta, jabatan, pujian manusia, atau luasnya kekuasaan. Ketenteraman yang sejati hanya hadir ketika hati tersambung kepada Allah.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Alladzīna āmanū wa tathma'innu qulūbuhum bi dzikrillāh, alā bi dzikrillāhi tathma'innul-qulūb.
"Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS Ar-Ra'd: 28)
Namun justru di titik inilah setan bekerja. Setan tidak selalu menjerumuskan manusia dengan cara yang tampak kasar. Ia sering datang melalui kelalaian kecil.
Mula-mula manusia dibuat malas membaca wirid. Lalu merasa berat untuk berzikir. Setelah itu, hatinya mulai kering. Lama-kelamaan, urusan dunia terasa lebih penting daripada mengingat Allah.
Dari sanalah penyakit hati mulai tumbuh. Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ketika seseorang terdorong meninggalkan wirid dan zikir karena malas, hendaknya ia waspada.