Selasa 31 Mar 2026 02:19 WIB

Tanda Orang Berkelas di Mata Allah, Bukan Harta, Tapi Emosinya

Saat emosi membara, inilah cara Alquran mengajarkan kita menjadi tenang.

Rep: ,Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi menahan emosi.
Foto: Senate TV/ Via Reuters
Ilustrasi menahan emosi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di dalam diri manusia, emosi adalah arus yang tak pernah benar-benar diam. Ia seperti sungai, kadang jernih menenangkan, kadang meluap membawa keruh yang menghantam tepi kesadaran.

Psikologi modern menyebutnya sebagai bagian dari sistem regulasi afektif, sebuah mekanisme kompleks yang melibatkan otak limbik, khususnya amigdala, yang merespons ancaman, serta korteks prefrontal yang berfungsi mengendalikan dan menimbang reaksi.

Baca Juga

Dalam banyak riset psikologi, kemampuan mengelola emosi, khususnya amarah, terbukti menjadi salah satu indikator utama kesehatan mental. Daniel Goleman, dalam konsep kecerdasan emosionalnya, menegaskan bahwa orang yang mampu menahan dorongan emosinya bukanlah yang menekan perasaan, melainkan yang mampu memahami, mengolah, dan mengarahkannya secara bijak.

Amarah yang tidak dikelola dapat bertransformasi menjadi agresi, stres kronis, bahkan gangguan relasi sosial. Sebaliknya, amarah yang ditata dengan kesadaran justru menjadi energi moral, dorongan untuk memperbaiki keadaan tanpa merusak kemanusiaan.

Sejarah manusia pun penuh dengan peristiwa yang menunjukkan betapa dahsyatnya dampak emosi yang tak terkendali. Konflik, kekerasan, bahkan perang, seringkali berakar dari ketidakmampuan menahan amarah kolektif.

Namun di sisi lain, tokoh-tokoh besar justru dikenang karena kemampuan mereka meredam emosi. Mereka tidak mematikan amarah, tetapi menjadikannya tunduk pada hikmah.

Dalam lanskap inilah, Islam hadir dengan pendekatan yang tidak sekadar normatif, tetapi juga sangat psikologis. Alquran tidak hanya memerintah, tetapi juga membentuk kesadaran batin. Salah satu ayat yang menjadi fondasi pengendalian emosi adalah firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 134:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

wal-kāẓimīnal-ghaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Ayat ini tidak berhenti pada larangan marah, tetapi mengajarkan tiga lapis kesadaran: menahan amarah, memaafkan, dan berbuat ihsan. Menahan amarah adalah pengendalian diri, memaafkan adalah pembebasan jiwa, dan ihsan adalah puncak kematangan spiritual. Di sinilah Islam melampaui sekadar pengendalian emosi, ia mengubahnya menjadi jalan menuju kemuliaan.

Imam At-Thabari, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa “al-kāẓimīn al-ghaiẓ” adalah mereka yang menahan amarah dalam hati, tidak melampiaskannya dalam tindakan yang melukai, padahal mereka mampu melakukannya. Sedangkan “al-‘āfīna ‘anin-nās” adalah mereka yang tidak hanya menahan, tetapi juga menghapus bekas luka itu dari jiwa, memaafkan tanpa menyisakan dendam. Menurut beliau, inilah tanda orang yang mencapai derajat ihsan, yakni mereka yang melampaui keadilan menuju kemurahan hati.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement