Jumat 10 Apr 2026 09:47 WIB

Penawar FOMO dari Sirah Nabi Muhammad: Menolak Viral demi Ketenangan Hati

Kemenangan sejati adalah tetap di jalan benar meski berjalan sendirian.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Dzikir dan merasa cukup merupakan kunci membentengi diri dari FOMO.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Dzikir dan merasa cukup merupakan kunci membentengi diri dari FOMO.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada masa ketika manusia tidak lagi kehilangan waktu, tetapi kehilangan arah. Ia berlari, tetapi tidak tahu ke mana. Ia mengikuti, tetapi tidak tahu mengapa. Dunia menjadi panggung yang riuh, dan manusia seperti penonton yang gelisah, takut tertinggal dari apa yang sedang terjadi. Di situlah FOMO bekerja: diam-diam, tetapi menguasai.

Kita melihatnya hari ini, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang tampak sederhana. Orang berbondong-bondong mendatangi tempat makan viral tanpa sempat bertanya apakah itu halal.

Baca Juga

Mereka membeli produk perawatan kulit hanya karena ramai dibicarakan, tanpa memahami kebutuhan diri. Di media sosial, hidup berubah menjadi perlombaan diam-diam, siapa yang paling terlihat “hidup”. FOMO tidak lagi sekadar tren, tetapi menjadi arus yang menggeser cara manusia berpikir.

Namun jauh sebelum istilah ini dikenal, sirah Nabi telah merekam gejala yang sama, dalam bentuk yang lebih mendasar: keinginan manusia untuk tidak berbeda, untuk tidak tertinggal, untuk menjadi seperti yang lain.

Dalam satu fragmen yang sunyi, Rasulullah ﷺ melihat para sahabatnya ditekan, disakiti, dan dipaksa mengikuti arus sosial Quraisy. Jika mengikuti logika FOMO hari ini, mungkin pilihan yang “aman” adalah tetap tinggal, tetap berada dalam lingkaran sosial, tetap terlihat bagian dari sistem. Tetapi Nabi justru menawarkan jalan yang sebaliknya.

“Bagaimana kalau kalian berhijrah ke negeri Habasyah… itu adalah negeri yang aman…”

Kalimat ini bukan sekadar strategi bertahan. Ia adalah revolusi cara pandang. Ketika dunia mengajarkan “jangan sampai tertinggal”, Nabi mengajarkan: tidak semua yang ditinggalkan adalah kerugian.

Para sahabat pun pergi. Mereka meninggalkan Makkah, pusat identitas, keluarga, dan pengakuan sosial mereka. Sirah mencatat:

“Mereka lari kepada Allah dengan membawa agama mereka.”

Ini bukan lari dari dunia, tetapi lari dari tekanan untuk menjadi seperti dunia. Di sinilah sirah menjawab FOMO dengan cara yang sangat tenang: lebih baik kehilangan tempat, daripada kehilangan arah.

Namun di sisi lain, sirah juga memperlihatkan wajah FOMO dalam bentuk yang lebih keras, dalam keputusan-keputusan yang lahir dari tekanan sosial. Dalam Perang Badar, kaum Quraisy sebenarnya memiliki peluang untuk mundur. Tetapi dorongan untuk tidak terlihat lemah membuat mereka tetap maju.

“Demi Allah kita tidak akan pulang sampai Allah memutuskan masalah kita dengan Muhammad.”

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement