Jumat 04 Apr 2025 22:50 WIB

Sering Maksiat Tapi Rezeki Melimpah, Ini Penjelasan Alquran

Ayat ini merupakan peringatan dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
ilustrasi merenungi waktu dan dosa
Foto: jart-gallery.blogspot.com
ilustrasi merenungi waktu dan dosa

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Di dunia ini dari kacamata Muslim, mungkin ada yang melihat dan bertanya kenapa orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya tapi rezeki hartanya melimpah ruah. Ada juga orang yang kerap berbuat maksiat dan dosa, tapi hidupnya sehat, rezekinya lancar, dan dunia bagai surga bagi mereka. 

Dua ayat Alquran dan tafsirnya ini menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.

Baca Juga

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَوْلَآ اِذْ جَاۤءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوْا وَلٰكِنْ قَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ 

Akan tetapi, mengapa mereka tidak tunduk merendahkan diri (kepada Allah) ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan. (QS Al-An‘am Ayat 43)

Ayat di atas menjelaskan hati mereka telah sesat dan terkunci mati, tidak dapat lagi menerima peringatan dan pelajaran apapun yang disampaikan kepada mereka. 

Setan menanamkan ke dalam hati dan pikiran mereka rasa senang dan gembira mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dan syirik, serta mendorong mereka agar selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela itu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. (QS Al-An‘am Ayat 44)

Ayat di atas menerangkan, ketika orang-orang yang sesat hatinya dan telah dipalingkan setan melupakan segala peringatan dan ancaman Allah, dan keingkaran mereka bertambah. Maka Allah menguji mereka dengan mendatangkan kebaikan dan menambah rezeki, menyehatkan jasmani mereka, menjaga keamanan diri mereka dan membukakan pintu kesenangan. 

Sehingga mereka lupa bahwa nikmat yang mereka terima dan rasakan itu datang dari Allah SWT. Mereka beranggapan bahwa semua itu semata karena hasil usaha mereka sendiri. 

Oleh karena itu, mereka bertambah sombong dan takabur, tidak bersyukur kepada Allah, bahkan nikmat itu mereka jadikan sebagai alat untuk menambah kekuasaan dan kebesaran mereka. 

Jika orang-orang yang ingkar itu telah bergembira dan bersenang hati dengan nikmat yang telah diberikan Allah, dan beranggapan bahwa yang mereka peroleh itu benar-benar merupakan hak mereka, maka Allah menimpakan azab kepada mereka dengan tiba-tiba. Sehingga mereka berduka cita dan putus asa dari rahmat Allah. 

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hamba kenikmatan dunia yang disukainya, sementara ia tetap bermaksiat kepadanya, maka itu adalah istidraj (pembiaran)." (HR Imam Ahmad, at-Tabrani dan al-Baihaqi)  

Dari ayat ini dipahami bahwa cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kesengsaraan dan penderitaan dan ada pula yang berupa kesenangan dan kemewahan. Orang-orang yang beriman dan diberi cobaan kesengsaraan dan penderitaan biasanya mereka sabar dan tabah, serta mendekatkan diri kepada Allah dan mohon pertolongan kepada-Nya.

Sebaliknya, jika mereka diberi cobaan kesenangan dan kemewahan mereka bersyukur kepada Allah, ingat akan hak-hak orang fakir dan miskin yang ada di sekelilingnya dan menafkahkan sebagian harta mereka di jalan Allah. Mereka yakin bahwa kesenangan dan kemewahan itu hanyalah sementara, sedang kesenangan dan kemewahan yang sebenarnya dan yang kekal adalah di akhirat nanti. 

Sebaliknya, jika orang-orang yang ingkar kepada Allah diberi cobaan kesengsaraan dan penderitaan, mereka putus asa dan bertambah ingkar kepada Allah SWT. Jika mereka diberi kesenangan dan kemewahan, mereka mengatakan bahwa semua yang mereka dapat, mereka peroleh dari hasil usaha mereka sendiri, tanpa pertolongan seorang pun. 

Ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia itu pada umumnya banyak yang tabah dan sabar jika diberi cobaan penderitaan dan kesengsaraan, tetapi banyak yang lupa diri dan bertambah ingkar jika diberi cobaan kesenangan dan kemewahan. 

Ayat ini merupakan peringatan dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman, bahwa segala macam yang didatangkan Allah kepada mereka baik berupa malapetaka dan penderitaan ataupun yang berupa kesenangan dan kemewahan, semuanya itu adalah cobaan bagi mereka, agar iman mereka bertambah kuat, karena itu mereka harus tabah dan sabar menghadapinya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sungguh mengagumkan keadaan orang-orang yang beriman, karena semua yang menimpanya adalah baik baginya, dan yang demikian itu tidak terdapat pada seorang pun, kecuali bagi orang-orang beriman. Jika kegembiraan menimpanya, ia bersyukur, dan itu adalah baik baginya. Jika kesukaran menimpanya, ia bersabar, dan itu adalah baik pula baginya. (HR Imam Muslim dari Suhaib)

Demikian dijelaskan Alquran dan tafsirnya dari Kementerian Agama RI mengenai orang yang berbuat maksiat dan dosa, tapi kehidupan di dunianya semakin lancar dan menyenangkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement