Selasa 27 Feb 2024 15:45 WIB

Dialog Prof Quraish Shihab dan Paus Fransiskus 

Prof Quraish Shihab dan Paus Fransiskus membicarakan soal isu kemanusiaan.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Cendekiawan Islam Indonesia Quraish Shihab.
Foto: Majelis Hukama
Cendekiawan Islam Indonesia Quraish Shihab.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Majelis Hukama Muslimin (MHM) Kantor Cabang Indonesia menggelar Seminar Persaudaraan Manusia. Seminar ini digelar dalam rangka memperingati Hari Persaudaraan Manusia Sedunia yang diperingati setiap 4 Februari sejak 2020. 

Hadir sebagai narasumber pendiri dan anggota MHM Profesor KH Quraish Shihab dan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Profesor Kamaruddin Amin. Seminar yang berlangsung di Bait Al-Quran, Jakarta Selatan dihadiri para akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Baca Juga

"Persaudaraan sekemanusiaan itu bukan sesuatu yang baru dalam ajaran agama-agama. Dua tahun yang lalu ada pertemuan Majelis Hukama Muslimin di Bahrain. Ketika itu, Paus Fransiskus hadir. Salah satu yang beliau ucapkan adalah siapa yang anda temui kalau bukan saudara anda seagama maka dia adalah saudara anda sekemanusiaan,” kata Kiai Quraish mengawali paparannya, Senin (26/2/2024). 

Menurut Prof Quraish, Paus Fransiskus tidak menyebut bahwa apa yang dia sampaikan adalah ucapan Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Ini menandakan bahwa substansi pesan itu diakui oleh semua orang. Bahkan, bagi orang yang membuka naskah-naskah di PBB jauh sebelum ditandatanganinya Dokumen Persaudaraan Sekemanusiaan pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi, pesan itu juga sudah masyhur.

Grand Syekh Al Azhar dan Paus Fransiskus pada 4 Februari 2019 telah menandatangani dokumen Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi. Setahun kemudian, 4 Februari oleh PBB ditetapkan sebagai Hari Persaudaraan Manusia Sedunia.

Sehari sebelum penandatanganan dokumen ini di Abu Dhabi, ada 12 tokoh MHM, termasuk Kiai Quraish dan Grand Syekh yang sempat bertemu dengan Paus Fransiskus. Masing-masing diberi kesempatan Grand Syekh untuk menyampaikan sesuatu dalam konteks pertemuan dua tokoh. 

“Saya berkata, sebenarnya hubungan antara Kristen dan Islam itu pada masa Nabi sangat erat. Saya menyampaikan harapan bahwa penandatanganan yang akan diadakan besok (4 Februari) diharapkan mewujudkan apa yang pernah wujud pada masa Nabi, hubungan yang begitu akrab, bukan hubungan persamaan agama tapi hubungan persamaan kemanusiaan,” kenang Kiai Quraish.

Pernyataan Kiai Quraish itu ditanggapi Paus. "Paus mengatakan, iya itu benar itulah tangga kita menuju Tuhan," kata Kiai Quraish.

Meski persaudaraan sekemanusiaan bukan hal baru, dikatakan Kiai Quraish, situasi dunia dan masyarakat seringkali menjadikan orang lupa bahwa semuanya adalah sama-sama manusia. Sehingga, perlu diingatkan.

“Kita adalah saudara-saudara sekemenuisan. Jelas ada perbedaan, tetapi sebagian besar perbedan itu bukan kemauan kita,” ujar Kiai Quraish.

Kiai Quraish mengatakan, kemanusiaan itu tidak hanya tertuju pada manusia. Kepada binatang dan tumbuhan pun ada kemanusiaan. Ini yang ingin disebarluaskan sehingga mewujud apa yang dalam Islam sangat ditonjolkan, yaitu Rahmatan Lil Alamin.

Di forum yang sama, Prof Kamaruddin mengapresiasi ikhtiar tokoh dunia, mulai dari Grand Syekh Al Azhar, Paus Fransiskus, termasuk Prof Quraish Shihab, untuk ikut terus menghidupkan semangat persaudaraan sekemanusian. Apa yang dijelaskan Prof Quraish adalah sejarah penting yang menggambarkan upaya para tokoh dalam menguatkan persaudaraan sekemanusiaan.

Menurut Prof Kamaruddin, ikhtiar memberikan pencerahan kepada masyarakat secara global tentang pentingnya pengetahuan, pemahaman, sikap perilaku, dan penghormatan persaudaraan kemanusiaan sangat penting. Sebab, interaksi manusia dalam keragaman agamanya juga sangat luar biasa.

Sebagai birokrat, Prof Kamaruddin mengatakan bahwa menjadi tugasnya untuk menindaklanjuti ikhtiar para tokoh dan membumikan pesan kemanusiaan hingga akar rumput. Sehingga, upaya itu tidak hanya menjadi wacana dan pemikiran, tapi terinternalisasi dan diamalkan di tengah hidup berbangsa dan bernegara.

Akan hal ini, Prof Kamaruddin menjelaskan sejumlah upaya Kemenag. Pertama, mengembangkan kampung moderasi. Menurutnya, ada 1.000 kampung yang sedang dibina dan akan menjadi contoh bagaimana penghargaan sesama manusia itu dipraktikkan dan diamalkan di kampung itu.

"Umat Islam, anak mudanya dikumpulkan, dirukunkan, mengajak mereka untuk mengamalkan dan merefleksikan dalam interaksi keseharian agar mereka bisa saling menghormati dan menghargai, meski beda keyakinan. Ini sangat penting sekali, meski tidak mudah beri mereka pemahaman untuk saling menghargai dan menghormati,” ujar Prof Kamaruddin.

Prof Kamaruddin menambahkan, kedua, membuat naskah khutbah. Setiap Jumat, Kementerian Agama membuat 5 - 6 naskah khutbah untuk dibagikan ke umat. Isinya adalah pandangan keagamaan yang menghargai perbedaan dan pluralitas. 

"Setiap jumat kita siapkan 5 - 6 naksh untuk dipilih masyarakat. Alhamdulillah ini dibaca luas. Naskah itu dibaca dan diunduh masyarakat luas. Ini salah satu instrumen yang kita lakukan untuk mendiseminasikan," jelas Prof Kamaruddin.

Ia menjelaskan, yang ketiga, Majelis Dai Kebangsaan. Kementerian Agama melatih para dai dan menghimpunnya dalam wadah Dai Kebangsaan. Anggotanya saat ini sudah mencapai 12.000 di seluruh Indonesia. Pembinanya para Gubernur dan Bupati seluruh Indonesia dan Ketua MUI. 

"Ini harus dikerjakan secara masif dan terstruktur. Tidak bisa parsial oleh kelompok tertentu. Mereka punya wawasan moderat dan toleran dan memiliki wawasan kebangsaan yang bagus. Tidak hanya menjadi umat yang baik tetapi warga negara yang baik," ujarnya.

Atas nama pemerintah, Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama menyampaikan terima kasih setulus-tulusnya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada MHM kantor cabang Indonesia yang juga memiliki program dan visi sama dalam menguatkan persaudaraan manusia. Beragam kegiatan yang dilakukan MHM juga sejalan dengan program pemerintah. 

Menurut Prof Kamaruddin, kekhasan Indonesia adalah keterlibatan civil society dalam berbangsa dan bernegara yang sangat luar biasa. Indonesia di tengah keragaman yang sangat besar tapi tetap stabil, karena memiliki infrastruktur sosial yang sangat kokoh, di antaranya ormas Islam, pesantren, civil society, yang secara sinergis kolaboratif membantu pemerintah menjaga kedamaian di Indonesia. 

"Ini harus kita rawat dan jaga bersama sehingga Indonesia kita tetap aman, damai, sejuk, tidak mudah dipenetrasi gerakan dan paham yang bertentangan dengan ideologi bangsa kita. Kami juga akan bekerja sama dengan MHM untuk safari Ramadhan. MHM menjadi bagian dari infrastruktur sosial yang mencerahkan bangsa dan umat kita," kata Prof Kamaruddin.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement