Kamis 22 Feb 2024 01:22 WIB

Bagaimana Menyikapi Perbedaan Pendapat terkait Persoalan Tertentu?

Ulama memiliki ragam pandangan dalam sebuah persoalan.

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Muhammad Hafil
 Ulama memiliki ragam pandangan dalam sebuah persoalan. Foto:  Kitab (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Ulama memiliki ragam pandangan dalam sebuah persoalan. Foto: Kitab (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Pernahkah Anda bingung ketika dihadapkan dengan banyak pendapat dalam satu persoalan tertentu? Tampaknya mayoritas umat Islam mengalami itu. Beragam pendapat ulama yang disugukan terkait persoalan tertentu di buku, kitab atau ceramah ulama.

Sebagai orang awam, bagaimana cara menentukan pendapat mana yang harus diikuti? Sebab setiap orang tentu menginginkan pendapat yang diikuti benar secara agama.

Baca Juga

Ahli tafsir al-Quran, Prof Quraish Shihab dalam bukunya "Menjawab ?...1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui" mengatakan bagi seorang awam dua hal yang perlu ditekankan dalam menghadapi beragam pendapat. Pertama, khilafiyah (perbedaan pendapat ulama yang memiliki otoritas dalam bidang ajaran agama) dapat merupakan rahmat bila dipahami sebagaimana mestinya.

Menurut Prof Quraish, apapun pendapat mereka selama masih bersumber dari al-Quran dan Hadis dan mereka sungguh-sungguh secara ikhlas mencari kebenaran maka akan diterima oleh Alla Swt. Sekalipun ujungnya keliru, Allah akan memberikan satu ganjaran. Itu adalah prinsip umum yang diberikan Rasulullah. Sebagaimana disampaikan 'Amr bin 'Ash, "Apabila seorang hakim berijtihad dan menemukan kebenaran, dia memperoleh dua ganjaran. Apabila dia memutuskan dengan berijtihad dan dia keliru, dia memperoleh satu ganjaran." (HR. al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud).

 

Dan hal yang kedua yang perlu ditekankan bagi orang yang kebingungan menentukan pendapat mana yang akan diikuti yaitu berpaku kepada Rasulullah ketika menjelaskan kepada Wabishah bin Ma'bad yang datang untuk bertanya tentang kebajikan.

Rasulullah kemudian bersabda, "Tanyailah hatimu. Kebajikan adalah apa yang diri dan jiwamu merasa tenang terhadapnya, sedangkan dosa adalah yang menimbulkan keraguan dalam diri dan membimbangkan dada, walaupun orang telah memberimu fatwa." (HR Imam Ahmad dan ad-Darimi).

Oleh karena itu, kata Prof Quraish, hendaklah seseorang berusaha sekuat tenaga mempelajari agama dari sumbernya atau dari pendapat para ulama. Jika tidak mampu, katanya, dianjurkan bertanya kepada ulama atau kiai yang membawa ketenangan hati.

Setelah itu, Prof Quraish meminta menghilangkan keraguan lalu memegang teguh pedoman bahwa jika sungguh-sungguh mencari kebenaran dan ikhlas maka jika benar akan mendapatkan dua ganjaran dan satu ganjaran apabila keliru.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement