Kamis 08 Feb 2024 17:45 WIB

Isra Miraj Momentum Penyerahan Baitul Maqdis kepada Rasulullah SAW

Isra Miraj momentum strategis keberlangsungan umat Islam.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi ngaji tentang Isra Miraj.
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Ilustrasi ngaji tentang Isra Miraj.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), KH Ahmad Kusyairi Suhail mengatakan, para ulama dunia menetapkan pekan terakhir bulan Rajab setiap tahun yang bertepatan dengan Peringatan Isra dan Mikraj sebagai Al Quds Global Week atau Pekan Al-Quds Sedunia. Hal ini merupakan bagian dari melaksanakan kewajiban dalam membela perjuangan kemerdekaan Palestina dan Masjidil Aqsha dari cengkeraman penjajah zionis Israel.

Kiai Kusyairi mengatakan, peristiwa Isra dan Mikraj tahun ini menjadi semakin penting untuk diperingati. Karena bersamaan dengan terjadinya tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza khususnya dan Palestina umumnya, yang sudah mengarah kepada genosida yang dilakukan oleh Israel Defense Forces (IDF) atau tentara Israel di bawah penglihatan dan pendengaran dunia. 

Baca Juga

"Hingga hari ke-125 perang di Gaza, tentara Israel telah membunuh 27.585 jiwa, kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak, melukai lebih dari 66.979 orang, menjatuhkan 66.000 bahan peledak, menghancurkan 360.000 rumah warga sipil dan mengebom 414 masjid dan 3 gereja serta membuat lebih dari 2 juta jiwa terpaksa mengungsi," kata Kiai Kusyairi melalui pesan tertulis kepada Republika, Kamis (8/2/2024).

Kiai Kusyairi mengatakan, selain Surat Al-Isra' Ayat 1 peristiwa spektakuler ini juga disinggung oleh Allah SWT di dalam Surat An Najm Ayat 13 hingga 18, dan termasuk peristiwa sejarah di Makkah yang paling banyak riwayatnya di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Di dalam kitab Shahih Al Bukhari, misalnya, terdapat 20 riwayat dari 6 orang sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sedangkan di dalam kitab Shahih Muslim, terdapat 18 riwayat dari 7 orang sahabat radhiyallahu ‘anhum.

 

Kiai Kusyairi yang juga Dosen Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Jakarta menegaskan, semua ini, menunjukkan bahwa problematika bangsa Palestina, selain merupakan tragedi kemanusiaan, sesungguhnya ia juga menjadi problematika umat Islam sedunia. Karena itu, derita mereka harus juga menjadi derita semua umat Islam di dunia. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Subḥānal-lażī asrā bi‘abdihī lailam minal-masjidil ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣal-lażī bāraknā ḥaulahū linuriyahū min āyātinā, innahū huwas-samī‘ul-baṣīr(u).

Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS Al-Isra' Ayat 1)

"Ayat di atas menegaskan ’Alaaqah ’Aqadiyah (Hubungan Teologis) antara umat Islam dengan Palestina, yaitu dengan adanya Masjidil Aqsa di sana, dan peristiwa Isra dan Mikraj adalah momentum penyerahan Baitul Maqdis kepada Nabi Muhammad SAW," ujar Kiai Kusyairi yang juga Pimpinan Pesantren YAPIDH Bekasi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement