Senin 22 Jan 2024 18:11 WIB

Syekh Nawawi Al Banteni Ungkap Tiga Cara Hilangkan Stres 

Stres adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Stres (ilustrasi).
Foto: Pixabay
Stres (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al Banteni dalam kitabnya Nashaihul Ibad mengungkapkan tiga cara mengatasi atau menghilangkan kegundahan hati atau stres. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan stres sebagai gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menjelaskan bahwa stres adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/ psikis), jika ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri. Stres adalah bagian alami dan penting dari kehidupan, tetapi jika berat dan berlangsung lama dapat merusak kesehatan seseorang.

Baca Juga

Syekh Nawawi Al Banteni menukil perkataan para hukama, yakni para ahli hikmah atau makrifat dalam mengatasi stres.

"Tiga perkara yang dapat menghilangkan kegundahan (pikiran stres) yaitu zikir (mengingat) Allah SWT, silaturrahim kepada para wali Allah dan memperhatikan perkataan hukama." (Kitab Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi Al Banteni)

Berzikir kepada Allah SWT dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya dengan membaca tahlil, hauqalah (La haula wa la quwwata illa billah) dan dengan bermunajat kepada-Nya.

Bermunajat kepada Allah SWT dapat dilakukan dengan cara membaca doa seperti ini.

"Wahai Dzat Yang Maha Penolong setiap orang yang merana, yang menyeru kepada-Nya. Wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan doa orang yang sengsara. Wahai Dzat Yang Maha Bijaksana terhadap setiap orang yang bersalah dan durhaka. Wahai Dzat yang mencukupi setiap orang yang lebih mementingkan-Mu daripada dunianya."

"Aku memohon kepada-Mu untuk dapat mencapai sesuatu yang tidak dapat aku gapai tanpa pertolongan-Mu, dapat menolak sesuatu yang tidak dapat aku tolak melainkan dengan kekuatan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu kebaikan yang penuh sejahtera dan kesejahteraan yang penuh kebaikan. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di atas semua yang berbelas kasih."

Dalam kitab Nashaihul Ibad dijelaskan bahwa yang dimaksud para wali Allah adalah para ulama dan aulia shalihin. Mungkin maksudnya dengan silaturrahim kepada para wali Allah, supaya kita mendapatkan petunjuk dari ajaran agama Islam yang bisa menenangkan hati dan pikiran. 

Sementara, yang dimaksud perkataan hukama adalah nasihat mereka yang berisi petunjuk untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Dilansir dari kitab Nashaihul Ibad yang diterjemahkan Abu Mujaddidul Islam Mafa dan diterbitkan Gitamedia Press, 2008.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement