Jumat 12 Jan 2024 16:32 WIB

Enam Kunci Surga dan Penutup Pintu Neraka

Akhirat adalah tempat kembali yang abadi.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi Surga
Foto: Pixabay
Ilustrasi Surga

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam kitab Nashaihul Ibad meriwayatkan pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah Radiyallahu anhu terkait enam kunci surga dan cara menutup pintu neraka.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu pernah mengatakan sebagai berikut:

Baca Juga

مَنْ جَمَعَ بِست خِصَالٍ لَمْ يَدَعْ لِلْجَنَّةِ مَطْلَبًا وَلَا عَن النَّارِ مَهْرَبًا أَوْلَهَا عَرَفَ اللَّهَ تَعَالَى فَأَطَاعَهُ وَعَرَفَ الشَّيْطَانَ فَعَصَاهُ وَعَرَفَ الْآخِرَةَ فَطَلَبَهَا وَعَرَفَ الدُّنْيَا فَرَفَضَهَا وَعَرَفَ الْحَقَّ فَاتَّبَعَهُ وَعَرَفَ الْبَاطِلَ فَاجْتَنَبَهُ .

"Barangsiapa mengumpulkan enam hal, maka berarti ia tidak meninggalkan cara meraih surga dan menjauhi neraka. Yaitu, pertama, mengenali Allah kemudian mentaati-Nya. Kedua, mengenali setan sebagai musuh Allah, kemudian mendurhakainya. Ketiga, mengenali akhirat, kemudian membekali diri untuk menuju kesana. Keempat, mengenali dunia, kemudian meninggalkannya. Kelima, mengenali kebenaran, kemudian mengikutinya. Keenam, mengenali perkara yang bathil, kemudian menjauhinya." (Syekh Nawawi al-Banteni, Nashaihul Ibad)

Agar kita mendapatkan surga dan dijauhkan dari siksa api neraka. Maka kita harus mengenali atau memahami akan enam hal ini.

Pertama, memahami bahwa Allah SWT yang telah menciptakan, yang memberi rezeki, yang menghidupkan dan yang mematikan. Kemudian taat kepada-Nya dengan cara menerima dan mengerjakan segala apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.

Kedua, memahami setan sebagai musuh-Nya, kemudian membantahnya dengan cara mengingkari perintah dan ajakan setan. 

Ketiga, memahami akhirat sebagai tempat (kembali) yang kekal abadi, kemudian mencarinya dengan cara mempersiapkan bekal untuk menuju kesana.

Keempat, memahami bahwa dunia itu adalah sesuatu yang pasti akan hancur, dan untuk selanjutnya menuju tempat persinggahan yang kekal, yaitu akhirat. Kemudian meninggalkan dunia dengan cara tidak memikirkannya lagi, melainkan sekedar bekal untuk akhirat.

Kelima, memahami kebenaran akan berbagai hukum, kemudian mengamalkannya. Keenam, memahami kebatilan, sebagai sesuatu yang tidak benar, kemudian meninggalkannya. Dilansir dari kitab Nashaihul Ibad yang diterjemahkan Abu Mujaddidul Islam Mafa dan diterbitkan Gitamedia Press, 2008.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement