Jumat 27 Oct 2023 14:22 WIB

Kekuasan yang Kini Tengah Diperebutkan, Bagaimana Pandangan Alquran?   

Alquran memandang kekuasaan adalah anugerah

Rep: Zahrotul Oktaviani / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi sumpah jabatan. Alquran memandang kekuasaan adalah anugerah
Foto: Antara
Ilustrasi sumpah jabatan. Alquran memandang kekuasaan adalah anugerah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Belakangan ini, kekuasaan seolah-olah menjadi hal yang mutlak harus didapatkan tak terkecuali di tengah-tengah. 

 

Baca Juga

Banyak orang berlomba-lomba untuk menduduki sebuah jabatan, dengan harapan dapat memanfaatkan kekuasaan yang dia miliki.

 

 

Meski demikian, apa sebenarnya kekuasaan itu? Hal ini adalah pertanyaan yang banyak orang mencoba menjawab, termasuk dalam perspektif agama Islam.

 

Dalam Islam, terlepas dari bagaimana orang lain mendefinisikannya, disampaikan bahwa kekuasaan adalah anugerah dari Allah SWT. Karena itu, setiap anugerah membawa tanggung jawab spiritual. Dalam Alquran surat Ali Imran ayat 26 disebutkan: 

 

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

 

“Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”    Cendekiawan Luqman Nieto, dalam artikelnya di About Islam yang dikutip Jumat (27/10/2023), menyebut Allah SWT telah membagikan karunia-Nya kepada umat manusia. 

 

Kekayaan, keindahan, kecerdasan, ilmu pengetahuan dan kekuasaan semuanya merupakan cerminan sifat-sifat-Nya. Pada ayat berikutnya, atau QS Ali Imran ayat 27, disebutkan Allah SWT berfirman: 

 

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 

“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)".

 

"Karunia biologis kita, seperti kesehatan, kekuatan, kekuasaan, atau kecerdasan, berasal dari Sang Pencipta kita, begitu pula aspek sosiologis kehidupan. Kita tidak memilih negara kelahiran kita, keluarga tempat kita dilahirkan, atau status sosial kita," ujar dia.

Baca juga: Perbedaan Mencolok Antara Miskin dan Kaya dalam Jalani Hisab Amal Kelak di Akhirat

 

Dia menyebut kekuasaan atau kedaulatan di dunia merupakan perpaduan antara anugerah biologis dan sosiologis, yang Allah SWT anugerahkan kepada setiap kita. Oleh karena itu, kekuasaan adalah anugerah dari Tuhan dan anugerah itu adalah amanah, tanggung jawab.

 

Menurut filsuf Perancis Michel Foucault, kekuasaan bukanlah suatu bentuk pemaksaan atau struktur tertentu, meskipun mungkin mengandung unsur-unsur tersebut.

 

"Kekuasaan adalah wacana dan pengetahuan. Wacana yang membentuk keadaan di mana kekuasaan muncul. Kekuasaan sangat erat kaitannya dengan keadaan," lanjut Nieto. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement