Jumat 20 Oct 2023 19:09 WIB

Hadits dan Penjelasan tentang Kedudukan Niat dalam Islam

Suatu amal shaleh yang dikerjakan oleh seorang Muslim diukur berdasarkan niatnya.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
Ilustrasi.
Foto: Republika.co.id
Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Niat memiliki keutaman yang besar dalam Islam. Sebab segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya sehingga suatu amal shaleh yang dikerjakan oleh seorang Muslim diukur berdasarkan niatnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA, Rasulullah SAW bersabda:

Baca Juga

- إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ

"Segala amal perbuatan itu tergantung niatnya. (Balasan) bagi setiap orang itu (tergantung) apa yang diniatkan. Siapa yang niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan." (HR. Bukhari)

 

Hadits tersebut adalah salah satu kaidah, pondasi maupun landasan Islam. Hadits yang mengulas tentang niat ini juga merupakan salah satu dasar syariat Islam. Bahkan hadits ini disebut sebagai sepertiga ilmu karena apa yang terkandung di dalamnya.

Hadits itu menunjukkan bahwa amal perbuatan seorang Muslim hanya didasarkan pada apa yang diniatkannya. Prinsip ini berlaku secara umum dan bersifat umum pula. Meliputi segala amal ibadah, transaksi, dan amal perbuatan sehari-hari.

Karena itu, seorang Muslim yang mengerjakan amal perbuatan karena menghendaki keuntungan duniawi, maka hanya itulah yang diperolehnya. Walaupun yang dikerjakannya itu adalah ibadah. Alhasil, yang bersangkutan tidak memperoleh pahala atas amalan yang dikerjakannya.

Ketika seorang Muslim melakukan amal perbuatan dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih ridha-Nya, maka ia diganjar pahala karena niatnya itu dan pahala dari amal perbuatannya. Sekalipun yang dikerjakannya hanya hal yang biasa, seperti makan dan minum.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW mengambil contoh hijrahnya seseorang. Jika hijrahnya karena didasarkan pada suatu hal yang bersifat duniawi, seperti kepentingan pribadi, bisnis, atau supaya mendapatkan wanita cantik, maka hanya itulah yang yang didapat. Tidak diganjar pahala dari Allah SWT karena niatnya bukan karena Allah SWT.

Sedangkan jika niat hijrahnya adalah untuk menaati perintah Allah SWT dan berusaha meraih ridha Allah SWT serta menjauhi larangan-Nya, maka ini adalah hijrah yang diridhai Allah SWT dan akan diganjar pahala karenanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement