Jumat 13 Oct 2023 23:37 WIB

Firaun Mengaku Tuhan dengan Segala Dusta, Tetapi Mengapa Masyarakat Mesir Kuno Percaya?

Masyarakat Mesir kuno mengakui Firauan sebagai tuhan tak tergantikan.

Rep: Imas Damayanti, Ali Yusuf / Red: Nashih Nashrullah
Peti Mati Firaun (ilustrasi) Masyarakat Mesir kuno mengakui Firauan sebagai tuhan tak tergantikan
Foto: Arab News
Peti Mati Firaun (ilustrasi) Masyarakat Mesir kuno mengakui Firauan sebagai tuhan tak tergantikan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Firaun merupakan manusia, namun dia mengaku-aku sebagai Tuhan dan mendeklarasikan hal itu kepada masyarakat Mesir kuno. Apakah masyarakat Mesir kuno percaya bahwa Firaun adalah Tuhan? 

Akidah Islam Menurut Empat Madzhab karya Abul Yazid Abu Zaid Al Ajami dijelaskan, rakyat Mesir kuno meyakini bahwa Firaun adalah Tuhan. 

Baca Juga

Dan keyakinan itu mereka kaitkan dengan keyakinan-keyakinan lain seperti Hari Akhir, proses perhitungan amal baik (hisab), dan keyakinan-keyakinan lainnya. Alquran melansir perkataan Firaun kepada rakyatnya dalam surat Al Qasas ayat 38: 

 يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي 

 

“Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku.” 

Kemudian dalam surat An Naziat ayat 23-24: 

فَحَشَرَ فَنَادَىٰ فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

Artinya: “Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, ‘Akulah Tuhanmu yang paling tinggi’.” 

Keyakinan ini menyeret mereka pada pencarian jawaban atas pertanyaan, apakah Firaun yang mereka yakini Tuhan itu mati seperti halnya manusia lain? Pertanyaan penting ini mereka jawab dengan berbagai jawaban yang tidak bisa dijelaskan di sini. 

Namun pastinya, warisan pemikiran mereka penuh dengan berbagai bentuk konsep keyakinan, bahkan sebagian peneliti filsafat Islam menyatakan, tentu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa rakyat Mesir kuno merupakan bangsa di dunia yang paling erat berpegangan pada agama, baik dulu maupun sekarang. 

photo
Infografis Berapa Tahun Diturunkannya Alquran - (Republika)
photo
Infografis Berapa Tahun Diturunkannya Alquran - (Republika)

Jika kaum Muslimin merupakan pemeluk agama yang paling taat, maka orang-orang Mesir adalah kaum Muslimin yang paling taat beragama. 

Tanpa membahas tentang penilaian terhadap pernyataan peneliti tersebut dan sejauh mana kebenaran ikatan tingkat ketaatan pada agama bagi kalangan rakyat Mesir kuno dan modern. 

Namun, inti permasalahannya tetap sama, yakni adanya warisan yang concern di bidang keyakinan elalui peninggalan-peninggalan rakyat Mesir kuno. 

Baca juga: Tempat Terendah di Bumi Lokasi Kekalahan Romawi dan Kebenaran Alquran yang Diakui Barat

Keyakinan seperti ini tidak hanya terbatas bagi kaum tertentu saja, karena ada juga rakyat India yang berkeyakinan seputar reinkarnasi dan keabadian ruh. 

Apa yang menyebabkan Firaun Sampai berani mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan yang tertinggi? Dr Zaprulkhan dalam bukunya, Mukjizat Puasa Menggapai Pencerahan Spiritual Melalui Ibadah Puasa Ramadhan, menyatakan, syahdan, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Firaun menjalani hidup dalam rentang usia yang sangat panjang, sampai 400 tahun dan dalam usia panjang yang dilalui itu tidak pernah ditimpa kesusahan.

Firaun tidak pernah merasakan perihnya lapar, kerongkongannya tidak pernah tersentuh panasnya dahaga. Kelemahan dan ketidakberdayaan tidak pernah menemani saat-saat kehidupannya sesaat pun. Dia juga tidak pernah sakit sedikit pun, baik sakit kepala, sakit perut, demam, atau yang lainnya.

Baca juga: Ini Peperangan yang Dimenangkan Romawi Sebagaimana Dikabarkan Alquran Surat Ar Rum

 

Melihat kenyataan yang dialami oleh Firaun inilah para ulama berkomentar seandainya saja dalam episode panjang perjalanan hidupnya itu Firaun pernah merasakan pahitnya lapar dan haus, pernah merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan, atau pernah mendapatkan kesusahan hidup sejenak saja, niscaya dia tidak akan mengikrarkan dirinya sebagai Tuhan tertinggi.

"Setidaknya kisah tentang kepongahan puncak Firaun dapat kita jadikan dalil bahwa kebanyakan manusia yang tidak pernah mengalami perihnya lapar dan dahaga akan membuat mereka congkak dan angkuh," katanya.

Karena orang yang tidak merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya, maka secara tidak langsung dia tidak mengakui kekuasaan Tuhannya. Itulah tragedi kemanusiaan sebab merupakan kodrati intrinsiknya sebagai manusia yang papa dan dhaif. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement