Jumat 13 Mar 2026 05:53 WIB

Khutbah Jumat: Mengapa Allah SWT Syariatkan Zakat untuk Umat Muslim?

Zakat fitrah diwajibkan hingga sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri.

Zakat / fidyah ( ilustrasi)
Foto: Dok Republika
Zakat / fidyah ( ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, 

Oleh: KH A Muzaini Aziz, Lc, MA, Anggota Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta dan Sekretaris II MUI Kota Tangerang

Baca Juga

Khutbah Pertama

أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الزَّكَاةَ رُكْنًا لِلْإِسْلَامِ رَكِينًا، لِيَكُونَ الْمُزَكِّي مُحْسِنًا لِأَخِيهِ وَمُعِينًا، وَمُؤَازٍرًا لَهُ فِي حَيَاتِهِ وَضَمِينًا. فَيَتَبَادَلُونَ بَيْنَهُمُ الْحُبَّ الصَّمِيمَ، وَيَتَشَارَكُونَ بِالنَّفْعِ الْعَمِيمِ، وَيَسِيرُونَ مَعًا عَلَى الطَّرِيقِ الْقَوِيمِ

أَشْهَدُ أَن لَّا إِلهَ إِلَّا الله، أَسْبَغَ نِعَمَهُ عَلَيكَ، وَأَمَرَكَ أَنْ تَمُدَّ بِالْخَيْرِ يَدَيكَ، فَقَالَ تَعَالَى: وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيكَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيلُهُ وَأَنَّ بِالْوَحْيِ كُلَّ مَا يَقُولُهُ

صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيرِ صَحْبٍ وَآلٍ, وَسَلّمَ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَاأَيُّهَا النَّاس، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاه، حَيْثُ قَالَ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيم

Zumratal mu`minîn rahimakumullâh..

Di antara hikmah dari kehendak absolut Allah SWT adalah Ia jadikan manusia berbeda-beda dalam berbagai hal, termasuk di antaranya adalah berbeda-beda di dalam pencapaian ekonominya. Ada yang Allah lebihkan, sebagian yang lain Allah kurangi.

Ada yang kuat, dan sebagian yang lain lemah. Yang kuat secara ekonomi dapat memberikan manfaat untuk yang lemah. Sementara yang lemah dapat menerima manfaat dari yang kuat.

Dengan demikian, keterikatan antara keduanya dapat terus berjalan, sehingga fenomena saling tolong menolong dapat terus lestari. Allah ciptakan keduanya untuk hidup berdampingan, dalam bingkai kolaborasi dan jalinan kohesi.

Di satu sisi Baginda Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ وَأَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلِأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ -يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ- شَهْرًا، وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ، وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ، مَلَأَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَلْبَهُ أَمْنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى أَثْبَتَهَا لَهُ أَثْبَتَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَدَمَهُ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيهِ الْأَقْدَامُ (الطبراني ,المعجم الأوسط)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa ada seorang laki-laki yang mendatangi Rasulullah SAW. Ia berkata: Wahai Rasulullah, manusia apa yang paling dicintai oleh Allah? Dan amal apa yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla? Rasulullah SAW menjawab, ‘Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, sedangkan amal yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang engkau diberikan kepada diri seorang muslim atau engkau menghilangkan kesulitannya atau engkau melunasi hutangnya atau membebaskannya dari kelaparan. Dan sesungguhnya (jika) aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi satu hajat/keperluan hal itu lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini -yaitu Masjid Madinah (Nabawi)- selama sebulan. Dan barang siapa yang meninggalkan amarahnya, niscaya Allah akan tutup aurat (aib atau kesalahan)-nya. Barang siapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melampiaskannya, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan memenuhi hatinya dengan rasa aman pada hari kiamat. Barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk menunaikan satu keperluan hingga keperluan itu dapat ia tunaikan untuk (saudara)-nya itu, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan mengokohkan kakinya di atas Shirath pada hari dimana banyak kaki yang tergelincir darinya.” (HR At-Thabraniy di dalam al-Mu’jam al-Ausath).

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement