Rabu 12 Jul 2023 16:54 WIB

10 Karakter Pemimpin Merujuk Sosok Nabi Ibrahim yang Disarikan dari Alquran

Nabi Ibrahim adalah sosok pemimpin yang teladan

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi kepemimpinan Nabi Ibrahim dalam Alquran. Nabi Ibrahim adalah sosok pemimpin yang teladan
Foto: republika
Ilustrasi kepemimpinan Nabi Ibrahim dalam Alquran. Nabi Ibrahim adalah sosok pemimpin yang teladan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Memasuki musim politik di Indonesia dan menjelang pilpres maupun pileg yang sudah mulai memanas, Umat memiliki pilihan dengan kepemimpinan teladan dalam Islam.

Pendiri Nusantara Foundation New York Amerika Serikat, Imam Shamsi Ali menjelaskan hikmah-hikmah kepemimpinan dari perjalan sejarah panjang hidup dan perjuangan Ibrahim alaihissalam. 

Baca Juga

Bahwa semua rentetan perjalanan sejarah hidup dan perjuangannya mengandung nilai-nilai yang sarat dengan kepemimpinan. Berikut sepuluh karakteristik dasar kepemimpinan Ibrahim alaihissalam, sebagaimana keterangannya kepada Republika.co.id, Rabu (12/7/2023).

Pertama, kepemimpinan Ibrahim itu terbangun di atas prinsip yang kokoh. Kepemimpinan yang tidak mudah goyah dan terwarnai oleh rongrongan dan pengaruh apapun. Tapi kokoh dalam memegang prinsip-prinsip dasar dan nilai yang diyakininya.

 

Hal tersebut tersimpulkan dari sikap Ibrahim terhadap kesyirikan pada masanya. Beliau terlahir di tengah masyarakat musyrik, bahkan ayahnya adalah pembuat patung, tapi beliau kokoh memegang prinsip. Tidak terpengaruh dan hanyut dalam kesyirikan masa itu.

Kedua, kepemimpinan Ibrahim itu berbasis kepintaran. Terminologi yang sering kita dengarkan adalah fathoaah. Ketajaman akal atau kepintaran menjadi karakter dasar kepemimpinan Ibrahim. 

Hal di atas tersimpulkan dari beberapa hal. Satu di antaranya adalah bagaimana proses Ibrahim dalam menemukan ketauhidan. 

Dari bintang-bintang, bulan, hingga matahari, disangakanya sebagai tuhan. Namun dengan ketajaman akal itu pulalah beliau menemukan ketauhidan yang sejati.

Ketiga, kepemimpinan Ibrahim AS itu juga berkarakter dengan kemampuan komunikasi yang mumpuni. Bahwa Ibrahim mampu mengkomunikasikan ide atau pemikirannya secara baik dan efektif.

Hal itu tersimpulkan dari kelihaian dan kehebatan Ibrahim dalam merespons dan mengkomunikasikan kebenaran tauhid kepada sang raja Namrud yang angkuh itu. 

Bagaimana soliditas komunikasi dan diplomasi yang dimiliki Ibrahim menjadikan sang raja terdiam, gagal merespon poin-poin yang disampaikan Ibrahim.

Keempat, Kepemimpinan Ibrahim itu melalui proses panjang, penuh dengan pelatihan-pelatihan yang dahsyat. Kepemimpinan Ibrahim bukan kepemimpinan karbitan.

Baca juga: Jalan Hidayah Mualaf Yusuf tak Terduga, Menjatuhkan Buku Biografi Rasulullah SAW di Toko

"Bukan juga kepemimpinan mumpung. Tidak dikarbitkan oleh kepentingan dan duit. Apalagi karena hanya karena kesempatan dalam kesempitan alias mumpung," ujar dia.

Hal di atas disimpukan dari rentetan ujian (cobaan) yang ditimpakan kepada Ibrahim. Dari upaya asasinasi dengan dibakar hidup-hidup, hingga ujian memotong anak satu-satunya yang dia cintai. 

Semua itu menjadi tangga menuju kepada kepemimpinan yang dijanjikan (ja’iluka linnaas imaama).

Kelima, kepemimpinan Ibrahim itu adalah kepemimpinan dengan pondasi keyakinan yang tinggi. Keyakinan tinggi ini yang lazim dikenal dengan percaya diri. Percaya diri bukan sikap superman. Tapi kuat dengan iman kepada Allah SWT. 

Hal di atas terintisarikan dari peristiwa upaya pembakaran...

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement