Ahad 14 May 2023 15:50 WIB

Berikut Ini Cara Sahabat dan Ulama Mencatat Setiap Hadist

Para sahabat memainkan peran penting dalam mempelajari dan mengajarkan hadits.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
Berikut Ini Cara Sahabat dan Ulama Mencatat Setiap Hadist. Foto:   Ulama hadits (ilustrasi)
Foto: Blogspot.com
Berikut Ini Cara Sahabat dan Ulama Mencatat Setiap Hadist. Foto: Ulama hadits (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sunnah dan hadist, sebagai salah satu landasan agama, biasanya berupa ucapan atau tindakan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya. Saat mengajarkan sunnah kepada sahabat dan umat, Nabi biasanya menggunakan tiga metode: lisan, tertulis (diktekan kepada juru tulis) dan demonstrasi praktis.

Terkait metode pertama atau secara lisan, Nabi biasa mengulang hal-hal penting sebanyak tiga kali, kemudian mendengarkan apa yang dipelajari para sahabat darinya. Metode kedua mencakup semua surat Nabi kepada raja-raja yang mengajak mereka masuk Islam, maupun kepada gubernur Muslim yang merinci aturan zakat dan masalah hukum lainnya.

Baca Juga

Untuk metode ketiga, biasanya mengacu pada pembelajaran Nabi kepada para sahabat bagaimana berwudhu, shalat, puasa, haji, dan sebagainya. Dengan demonstrasi atau praktik langsung, Nabi memberikan pengajaran Sunnah kepada mereka.

Dilansir di Islam Online, Sabtu (13/5/2023), para sahabat memainkan peran penting dalam mempelajari dan mengajarkan hadits dan sunnah Nabi ini. Mereka menggunakan ketiga metode yang diterapkan oleh Nabi untuk mengajarkan Sunnah, serta mereka menyampaikan hadits Nabi untuk dihafal.

Penulisan Hadits (Tadwin Al-Hadits)

Dalam literatur Hadits, biasanya dihadapkan pada hadis-hadis yang melarang dan yang lainnya yang membolehkan penulisan hadis-hadis. Abu Sa`id Al-Khudri melaporkan sebuah hadits yang melarang penulisan hadits: "Jangan menulis dari saya apa pun kecuali Alquran dan siapa pun yang telah menulis apa pun dari saya selain Alquran harus menghapusnya."

Inilah satu-satunya hadits yang sah dalam hal ini. Hadits lain yang sering dikutip yang melarang penulisan hadits adalah lemah dan tidak dapat diterima. Hadits tersebut di atas tercatat dalam Al-Bukhari, yang mana menurutnya itu adalah pernyataan Abu Sa`id Al-Khudri sendiri.

Hadits ini memiliki arti tidak ada yang harus ditulis bersamaan dengan Alquran pada lembar yang sama, karena hal ini dapat menyebabkan pencampuran teks Alquran dan teks Hadits. Perintah ini diberikan ketika Alquran diturunkan sedikit demi sedikit dan belum lengkap.

Penafsiran lain dari hadits ini adalah menulis hadits pada masa awal dilarang, karena semua perhatian harus diberikan kepada Alquran dan pelestariannya. Kemudian di kemudian hari, ketika tidak ada lagi rasa takut meninggalkan Alquran, perintah ini dibatalkan dan para sahabat diizinkan untuk menulis hadits.

Di sisi lain, ada bukti bahwa Nabi menyetujui penulisan hadis-hadisnya dan banyak sahabat yang mencatat hadits. Misalnya, `Abdullah ibn `Amr diizinkan dan bahkan didorong oleh Nabi SAW untuk menulis Hadits.

Selain itu, sekitar 50 Sahabat dan banyak pengikut dikatakan telah memiliki manuskrip (sahifah, suhuf jamak bahasa Arab), yang digunakan sebagai istilah untuk menunjukkan ringkasan Hadits yang muncul selama abad sebelum pembentukan koleksi klasik.

Naskah asli telah hilang, tetapi sangat sedikit salinan yang bertahan. Contohnya adalah manuskrip Hammam bin Munabbih, yang belajar dari Abu Hurairah dan darinya ia menulis manuskripnya yang berisi 138 hadits. Naskah ini diperkirakan ditulis sekitar pertengahan abad pertama setelah Hijrah atau abad ketujuh M.  

Sumber:

https://islamonline.net/en/stages-of-recording-hadith-2/

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement