Alquran Jelaskan Perilaku Negatif Manusia Saat Susah dan Senang

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

 Selasa 27 Sep 2022 10:42 WIB

Manusia berdoa dan mendekat kepada Allah SWT saat susah (ilustrasi). Manusia berbeda sikap ketika ditimpa kesusahan dan kebahagiaan Foto: Republika Manusia berdoa dan mendekat kepada Allah SWT saat susah (ilustrasi). Manusia berbeda sikap ketika ditimpa kesusahan dan kebahagiaan

Manusia berbeda sikap ketika ditimpa kesusahan dan kebahagiaan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Alquran menerangkan perilaku negatif manusia ketika ditimpa musibah atau kesusahan dan mendapat keberuntungan atau kesenangan. Ketika ditimpa sedikit saja musibah, sebagian manusia mendekatkan diri ke Allah SWT, berdoa, dan bertobat serta berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya. 

Tapi ketika kesusahan itu telah hilang, kemudian Allah SWT memberikan rahmat-Nya. Sehingga manusia mendapat keberuntungan dan kesenangan, kemudian sebagian dari mereka lupa diri dan kembali menyekutukan Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam tafsir Surat Ar Rum ayat 33.

Baca Juga

وَاِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُّنِيْبِيْنَ اِلَيْهِ ثُمَّ اِذَآ اَذَاقَهُمْ مِّنْهُ رَحْمَةً اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُوْنَۙ

“Apabila manusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali (bertobat) kepada-Nya. Kemudian, apabila Dia memberikan sedikit rahmat-Nya kepada mereka, tiba-tiba sebagian mereka mempersekutukan Tuhannya.” (QS Ar Rum ayat 33).

Menurut Tafsir Kementerian Agama, ayat ini menerangkan satu bentuk negatif perilaku manusia, yaitu bila ditimpa kesusahan, mereka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kemudian, setelah kesusahan itu hilang dan berganti dengan keberuntungan, mereka kembali menyekutukan Allah SWT. 

Kesusahan itu bisa berupa kemelaratan, sakit, musibah, bencana, dan sebagainya. Ungkapan bahwa kesusahan itu hanya “menyentuhnya” berarti hanya ringan dan sesaat dari masa hidupnya yang panjang, tidak sampai “menimpanya” dengan dahsyat. 

Namun demikian, hanya dengan sentuhan sedikit kesusahan saja, mereka sudah merasa dunia ini gelap. Mereka segera berdoa kepada Allah SWT agar segera dilepaskan dari kesusahan itu. 

Doa itu mereka iringi dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka rajin beribadah, memohon ampun atas dosa-dosanya, dan berjanji akan patuh melaksanakan perintah-perintah Allah SWT pada masa yang akan datang. Dengan demikian, mereka kembali kepada fitrah mereka. 

Akan tetapi, kepatuhan mereka itu hanya sebentar, yaitu selama kesusahan itu masih terasa. Ketika kesusahan itu diganti Allah SWT dengan “mencicipkan” kepadanya sedikit kebahagiaan saja, sebagian mereka sudah lupa diri dan kembali menyekutukan Allah SWT. 

Menyekutukan Allah SWT itu maksudnya mempercayai adanya unsur lain yang berperan dalam membuat mereka beruntung atau susah, baik berupa berhala, setan, ataupun manusia. 

Satu kesalahan besar jika mereka memandang keuntungan usaha itu sebagai hasil usaha dan kerja keras mereka sendiri, sehingga mereka tidak mensyukuri nikmat itu.

Mereka juga tidak menggunakan nikmat tersebut sebagaimana mestinya dan sebagaimana yang dikehendaki oleh pemberinya yakni Allah SWT. Dengan demikian, mereka mengotori fitrah mereka.    

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini