Kamis 04 Jun 2026 14:11 WIB

Pendosa Hebat Pun Dipanggil Lembut, Untaian Kata Indah di Balik Az-Zumar 53

Banyak manusia merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Allah.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Dzikir memohon ampunan Allah.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Dzikir memohon ampunan Allah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada ayat yang oleh sebagian ulama disebut sebagai ayat yang paling memberikan harapan dalam Alquran. Ayat yang turun bukan kepada para malaikat yang tidak pernah berbuat salah, bukan pula kepada para nabi yang terjaga dari dosa besar. Ayat ini justru turun untuk manusia-manusia yang pernah jatuh, pernah tersesat, pernah melukai dirinya sendiri dengan kesalahan yang berulang-ulang.

Allah berfirman:

Baca Juga

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Qul yā 'ibādiyallażīna asrafụ 'alā anfusihim lā taqnaṭụ mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunụba jamī'ā, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS Az-Zumar: 53)

Perhatikan bagaimana Allah memulai ayat ini. Bukan dengan panggilan, "Wahai para pendosa." Bukan pula, "Wahai para pembangkang."

Allah memanggil mereka dengan kalimat yang begitu lembut: "Yā 'ibādī", "Wahai hamba-hamba-Ku."

Padahal mereka adalah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri. Mereka berdosa, bermaksiat, mengikuti hawa nafsu, berkali-kali jatuh ke lubang yang sama.

Namun Allah tidak mencabut hubungan itu. Mereka tetap disebut sebagai hamba-hamba-Nya. Betapa banyak manusia yang merasa dirinya terlalu kotor untuk kembali kepada Allah.

Mereka mengira dosa-dosa yang bertumpuk telah menutup seluruh jalan menuju ampunan. Mereka melihat masa lalu yang gelap lalu berkesimpulan bahwa masa depan mereka pun pasti gelap.

Padahal yang sering kali membuat seseorang binasa bukanlah dosanya. Yang membinasakannya adalah keputusasaan.

Syekh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa Allah melarang hamba-hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya. Sebab ketika seseorang mulai berkata, "Dosa saya terlalu banyak, Allah tidak akan mengampuni saya," pada saat itulah ia sedang membuka pintu kebinasaan yang lebih besar. Ia berhenti berharap, berhenti bertobat, lalu membiarkan dirinya tenggelam semakin dalam.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement