REPUBLIKA.CO.ID,
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ الْجَسِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Hadirin jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah,
Segala puji bagi Allah Swt atas karunianya kita berjumpa dengan hari Jumat ini, Jumat yang semakin mendekatkan kita dengan bulan Ramadhan. Mudah-mudahan Allah Swt memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhan. Selawat dan salam kita sampaikan kepada nabi kita, Nabi Muhammad saw. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya.
Sebagai seorang khatib, tentunya memiliki tanggung jawab untuk terus mengingatkan jamaah tentang pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan berarti melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat. Dunia ini hanyalah ladang untuk menanam amal, sedangkan akhirat adalah tempat kita memetik hasil dari apa yang telah kita kerjakan.
Jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah,
Tidak seorang muslim pun yang tidak gembira menyambut kedatangan Ramadhan, meski alasan gembiranya berbeda-beda. Di Indonesia, Ramadhan bukan hanya momentum agama spiritual, tetapi juga adalah momentum sosial, ekonomi, dan sedikit politik. Semua momentum tersebut menghadirkan kebahagiaan tersendiri.
Jelas Ramadhan adalah momentum spiritual agama, karena itu adalah kesempatan bagi setiap muslim untuk me-restart dan me-refresh kehidupan spiritualnya agar kembali bersih dari segala dosa dan juga segar dari kepengapan disorientasi kehidupan dari yang sesungguhnya.
Ketika Ramadhan datang, Allah Swt seperti menyediakan pusat pelatihan selama sebulan yang dilengkapi instruktur yaitu para ulama, materi berupa ceramah dan renungan, dan ritual-ritual seperti tarawih, tahajud, dan membaca Alquran. Targetnya adalah kehidupan spiritual yang lebih baik setelah Ramadan.