Senin 22 Jul 2024 11:02 WIB

Gunung Gede Membeku, An Naba Sebut Gunung Sebagai Pasak dan Penjelasan Ilmiahnya

Pegunungan mempunyai perluasan di bawah permukaan tanah 10-15 kali ketinggian.

Puncak Gunung (Ilustrasi)
Foto: Rakhmawaty La'lang/Republika
Puncak Gunung (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Humas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) Deni mengatakan suhu udara di kawasan tersebut mengalami penurunan sejak beberapa terakhir. Bahkan hal yang sama dapat dirasakan di kawasan pintu masuk pendakian Cibodas dan Gunung Putri.

"Suhu di kawasan Alun-alun Suryakancana sempat dilaporkan sampai 0 derajat saat pagi hari, penurunan suhu terjadi lebih dingin dibandingkan biasanya, untuk pastinya kami masih menunggu laporan petugas," katanya, di Cianjur, belum lama ini.

Baca Juga

Kondisi Gunung Gede dan Pangrango di kawasan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dilaporkan 'membeku' di puncak musim panas pada Juli 2024. Di kawasan alun-alun Suryakancana, dilaporkan membeku akibat suhu udara yang menurun tajam terutama pagi hari. Pendaki harus berhati-hati dan mengenakan perlengkapan sesuai standar agar tidak mengalami hipotermia.

Zaghlool El-Naggar dalam penjelasannya di laman About Islam mengatakan penggambaran gunung sebagai pasak dengan jelas menyiratkan ciri-ciri geomorfik yang mencolok tersebut bukan hanya elevasi tinggi yang terlihat di permukaan bumi (seperti yang didefinisikan oleh sebagian besar glosarium dan ensiklopedia terkini), namun perluasannya ke bawah di permukaan bumi litosfer sangat ditekankan.

Surat An Naba ayat 6-7

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ

Alam naj‘alil-arḍa mihādā(n)

Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan

وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ

Wal-jibāla autādā(n)

dan gunung-gunung sebagai pasak?

Meskipun sebagian besar tiang kayu (pasak) tersembunyi di dalam tanah atau batu dan fungsinya adalah untuk menahan salah satu ujung tenda ke permukaan tanah, ilmu bumi modern telah membuktikan gunung memiliki akar yang sangat dalam yang dapat menstabilkan gunung, lempeng litosfer serta seluruh planet.

Apa yang kita lihat dari gunung-gunung di atas permukaan tanah tidak lain hanyalah puncak dari kumpulan besar batuan yang menembus litosfer dan mengapung di substrat yang lebih padat (astenosfer) seperti gunung es yang mengapung di air laut.

Pegunungan mempunyai perluasan di bawah permukaan tanah sebesar 10-15 kali ketinggian luarnya (tergantung pada kepadatan rata-rata batuan pembentuk gunung dan bahan tempat akarnya tertanam).

Massa gunung dengan berat jenis rata-rata 2,7 (granit) dapat tenggelam ke dalam lapisan batuan simatik plastis (dengan berat jenis rata-rata 3,00 hingga kisaran terapung dengan bagian (atau akar) yang terendam sekitar sembilan per sepuluh dan tonjolan sepersepuluh panjang totalnya.

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa dengan satu kata (awtad = pasak) Alquran menjelaskan baik elevasi luar gunung-gunung, kedalamannya, perluasannya ke bawah (hingga kedalaman yang jauh lebih besar daripada elevasinya) dan fungsinya sebagai sarana fiksasi untuk seluruh planet serta lempeng litosfernya.

Istilah “piket” atau “pasak” yang digunakan Alquran untuk menggambarkan pegunungan, secara harfiah dan ilmiah lebih tepat dibandingkan dengan istilah “akar” yang saat ini digunakan untuk menggambarkan perluasan pegunungan yang tersembunyi dan mengarah ke bawah.

Fakta bahwa gunung-gunung mempunyai ekstensi yang jauh ke bawah di bawah permukaan tanah dan bahwa peran utamanya adalah untuk menstabilkan bumi sebagai sebuah planet, dan lapisan luarnya yang berbatu-batu (khususnya yang merupakan lempeng benua) baru diketahui oleh para ahli baru-baru ini. Meskipun para ilmuwan telah merenungkan kemungkinan adanya gunung-gunung yang berakar sejak paruh kedua abad ke-19.

Namun, proses pembentukan perluasan ke bawah tersebut serta perannya dalam menghentikan pergerakan planet dan lempeng litosfernya yang tiba-tiba baru mulai dipahami dalam kerangka astronomi modern dan konsep terkini tentang lempeng tektonik (akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an).

Keutamaan Alquran selama lebih dari 143 abad dalam menggambarkan gunung sebagai pasak (atau piket) dan dalam mendefinisikan peran utamanya sebagai "penstabil bumi, biarlah bumi berguncang bersama kita” adalah kesaksian yang jelas bahwa Alquran adalah firman Sang Pencipta dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan terakhir-Nya.

Sumber: About Islam

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement