Senin 11 Dec 2023 07:16 WIB

Prof Quraish Shihab Jelaskan Cara Mendidik Anak Berdasarkan Surat Luqman ayat 13

Tafsir Surat Luqman ayat 13 tentang mendidik anak dijelaskan Prof Quraish Shihab.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
 Tafsir Surat Luqman ayat 13 tentang mendidik anak dijelaskan Prof Quraish Shihab. Foto: Seorang Jamaah membaca Alquran
Foto: Republika
Tafsir Surat Luqman ayat 13 tentang mendidik anak dijelaskan Prof Quraish Shihab. Foto: Seorang Jamaah membaca Alquran

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Surat Luqman ayat 13 memiliki kandungan tafsir yang dalam, khususnya tentang cara mendidik anak. Dalam Tafsir Al-Mishbah karya Prof Dr Quraish Shihab, betapa terangnya hikmah dari apa yang diperbuat oleh Luqman kepada anaknya.

Dalam Alquran disebutkan:

Baca Juga

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman ayat 13)

 

Prof Quraish menjelaskan, kata 'ya-izhuhû terambil dari kata wa'zh, yang berarti nasihat tentang berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga yang mengartikannya sebagai ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman.

Penyebutan "Qoola Luqman" (Luqman berkata) adalah untuk memberi gambaran tentang bagaimana perkataan yang disampaikan Luqman kepada anaknya, yaitu tidak membentak, tetapi penuh kasih sayang sebagaimana dipahami dari panggilan mesranya kepada anak.

"Kata ini juga mengisyaratkan bahwa nasihat itu dilakukannya dari saat ke saat, sebagaimana dipahami dari bentuk kata kerja masa kini dan datang pada kata 'ya-izhuhu'," jelas Quraish.

Adapun sebagian ulama lain memahami bahwa kata wa'zh itu bermakna ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman. Ulama-ulama tersebut berpendapat bahwa kata wa'zh mengisyaratkan bahwa anak Luqmân itu adalah seorang musyrik sehingga sang ayah terus menerus menasihatinya sampai akhirnya sang anak mengakui Tauhid.

"Hemat penulis (Prof Quraish), pendapat yang antara lain dikemukakan oleh Thahir Ibn 'Asyur ini sekadar dugaan yang tidak memiliki dasar yang kuat. Nasihat dan ancaman tidak harus dikaitkan dengan kemusyrikan. Di sisi lain, bersangka baik terhadap anak Luqman jauh lebih baik daripada bersangka buruk," demikian penjelasan Quraish.

Adapun kata 'Bunayya' adalah patron yang menggambarkan kemungilan. Asal kata Bunayya adalah ibny dari kata "ibn", yakni anak lelaki. Pemungilan dalam memanggil anak ini mengisyaratkan kasih sayang.

"Dari sini, kita dapat berkata bahwa ayat di atas memberi isyarat bahwa mendidik hendaknya didasari oleh rasa kasih sayang terhadap peserta didik," tuturnya.

Kemudian Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik atau mempersekutukan Allah. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang wujud dan keesaan Allah.

Redaksi larangan yang digunakan dalam ayat tersebut, "janganlah kamu mempersekutukan Allah", bertujuan untuk menekan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik. Karena, Quraish menyampaikan, menyingkiran keburukan lebih utama daripada menyandang perhiasan.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement