Senin 04 Dec 2023 07:05 WIB

Sholat Dhuha Lebih dari Dua Rakaat, Haruskah dalam Satu Salam? 

Waktu pelaksanaan sholat dhuha adalah sejak matahari naik.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi sholat dhuha.
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Ilustrasi sholat dhuha.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Sholat dhuha merupakan salah satu sholat sunnah yang biasa dilakukan umat Islam. Lantas bagaimana jika hendak mendirikan sholat dhuha lebih dari dua rakaat? 

 Salah satu dalil mengenai anjuran sholat dhuha berasal dari sejumlah hadits, salah satunga hadits qudsi seperti diriwayatkan Hakim dan Thabrani yang semua perawinya dapat dipercaya, Allah SWT berfirman, "Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada permulaan siang (yakni sholat dhuha), nanti akan Kucukupi kebutuhanmu pada sore harinya.''
 
Sholat dhuha secara umum biasa dilakukan umat Muslim sebanyak dua rakaat di waktu pagi hari. Dalam hal ini, para ulama pun menjelaskan mengenai hal-hal yang kaitannya dengan sholat sunnah yang satu ini.
 
Imam Syafii dalam Fikih Manhaji menjelaskan, sholat dhuha dilakukan minimal dua rakaat dan maksimal delapan rakaat. Imam Bukhari dan Imam Muslim menyatakan hadis dari Abu Hurairah yang berkata, “Kekasihku (Nabi Muhammad) berpesan kepadaku soal tiga hal: puasa tiga hari tiap bulan, sholat dhuha dua rakaat, dan witir sebelum ke pembaringan, yakni sebelum tidur."
 
Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Ummu Hani pernah menemui Rasulullah sewaktu penaklukan di daerah tinggi Makkah. Beliau mandi dan Fathimah melindunginya. Beliau mengambil pakaian dan mengenakannya. Kemudian sholat dhuha delapan rakaat."
 
Imam Syafii menjelaskan, sebaiknya sholat dhuha yang lebih dari dua rakaat dilakukan dengan melaksanakan dua rakaat dipisahkan dengan salam. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud dari Ummu Hani. Bahwa Rasulullah SAW sholat dhuha delapan rakaat pada penaklukan Makkah. Tiap dua rakaat beliau mengucapkan salam.
 
Adapun waktu pelaksanaan sholat dhuha adalah sejak matahari naik hingga condong ke barat. Tapi lebih utama adalah setelah seperempat siang. Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan bahwa Zaid bin Arqam berujar, “Nabi berangkat meninggalkan Quba saat warganya mengerjakan shalat dhuha. Beliau juga bersabda, ‘Sholat para awwabin adalah saat anak unta beranjak’."
 
 
 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement