Sabtu 02 Dec 2023 17:32 WIB

Makna Malu yang Sebenarnya Sesuai Penjelasan Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad menjelaskan soal malu.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
 Nabi Muhammad menjelaskan soal malu. Foto:  hadits (ilustrasi)
Foto: Blogspot.com
Nabi Muhammad menjelaskan soal malu. Foto: hadits (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sering kali orang tidak bisa membedakan secara jelas apa sebenarnya makna malu. Sehingga, ada yang menganggap malu itu baik, dan ada pula yang menganggap malu adalah kurang baik. Dampaknya, makna malu tersebut menjadi abu-abu.

Islam telah memberikan penjelasan yang jelas mengenai apa itu malu. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud RA. Berikut ini hadits lengkapnya:

Baca Juga

استَحيوا منَ اللَّهِ حقَّ الحياءِ ، قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ إنَّا لنَستحيي والحمد لله ، قالَ : ليسَ ذاكَ ، ولَكِنَّ الاستحياءَ منَ اللَّهِ حقَّ الحياءِ أن تحفَظ الرَّأسَ ، وما وَعى ، وتحفَظَ البَطنَ ، وما حوَى ، ولتَذكرِ الموتَ والبِلى ، ومَن أرادَ الآخرةَ ترَكَ زينةَ الدُّنيا ، فمَن فَعلَ ذلِكَ فقدَ استحيا يعني : منَ اللَّهِ حقَّ الحياءِ

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Hendaklah kalian malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Lalu kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu kepada Allah, segala puji bagi ALlah."

 

Kemudian beliau SAW bersabda, "Bukan begitu. Malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu adalah hendaknya engkau menjaga kepala dan apa yang didengarnya, menjaga perut dan apa yang masuk ke dalamnya, serta mengingat kematian dan cobaan. Siapa yang menginginkan kehidupan akhirat, maka ia harus meninggalkan perhiasan dunia dan mengutamakan akhirat daripada dunia. Siapa melakukan semua itu, maka ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." (HR. At Tirmidzi)

Malu dan minder itu berbeda. Salah satu contoh minder adalah ketika seorang murid enggan bertanya yang dampaknya ia pun tidak paham dengan materi yang disampaikan oleh guru. Dalam konteks ini, seharusnya murid tersebut tidak minder, sebab sikap ini akan menghalanginya dalam memelajari ilmu.

Dalam kitab Adab al 'Alim wa al-Muta'allim, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari mengingatkan agar seorang murid tak ragu bertanya jika tak mengerti suatu pelajaran.

Namun, pertanyaan yang diajukan harus dengan sopan santun. Kiai Hasyim menukil perkataan Mujahid RA, "Orang yang minder dan orang yang sombong tidak akan bisa mempelajari ilmu." Aisyah RA juga berkata, "Semoga Allah mengasihi kaum perempuan Anshar, karena sifat minder mereka telah mencegah mereka mempelajari ilmu agama."

Karena itu, inilah mengapa penting bagi orang tua untuk memperhatikan persoalan ini agar anak mereka tidak minder. Orang tua harus menjadikan anak-anaknya memiliki rasa kepercayaan diri yang kuat.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement