Selasa 10 Oct 2023 09:39 WIB

Empat Amalan Ketika Kemarau Berakhir dan Musim Hujan Datang

Musim kemarau diprediksi akan segera berakhir.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil
Musim kemarau diprediksi akan segera berakhir. Foto;   Hujan deras/ilustrasi
Foto: Flickr
Musim kemarau diprediksi akan segera berakhir. Foto; Hujan deras/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau kering di Indonesia akan segera berakhir. BMKG memperkirakan pada November hujan sudah mulai turun. Lalu bagaimana Muslim menyikapi berakhirnya musim kemarau dan menyambut datangnya musim penghujan?

1) Merasa takut kepada Allah ta'ala

Baca Juga

Di balik perubahan musim kemarau ke musim hujan yang terjadi, seorang Muslim seyogianya tetap untuk menanamkan rasa takut kepada Allah SWT. Sebab boleh jadi Allah menurunkan azabnya kepada orang-orang yang bermaksiat dengan angin dan hujan lebat yang turun. Kekhawatiran seperti ini juga menyelimuti Rasulullah SAW. Sehingga kendati musim hujan turun, tidak lantas bergembira berlebihan. Namun tetap mengingat Allah, bersyukur dan merasa takut kepada Allah. 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا عَمْرٌو أَنَّ أَبَا النَّضْرِ حَدَّثَهُ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطُّ مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا الْغَيْمَ فَرِحُوا رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَتْ فِي وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ مَا يُؤَمِّنُنِي أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ قَدْ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا

 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Shalih] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Wahb] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Amru] bahwa [Abu An Nadhr] menceritakan kepadanya dari [Sulaiman bin Yasar] dari ['Aisyah radliallahu 'anha] isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata, "Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'Alahi Wasallam tertawa terbahak banyak hingga terlihat tekaknya, Biasanya beliau hanya tersenyum. Jika beliau melihat awan mendung atau angin, semua itu terlihat dari raut mukanya (yakni beliau bersedih). Aku lalu bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, orang-orang jika melihat awan mendung, mereka berbahagia karena mengharap akan mendapatkan hujan. Tetapi jika engkau melihat awan mendung maka aku melihat tanda kegelisahan dari raut wajahmu?" beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, aku tidak merasa aman. Karena di dalamnya terkandung adzab; suatu kaum pernah disiksa oleh Allah dengan angin, dan kaum lain saat melihat siksa itu justu berkata, "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita." (HR. Abu Daud).

An Nawawi rahimahullah mengatakan:

فيه الاستعداد بالمراقبة لله والالتجاء إليه عند اختلاف الأحوال وحدوث ما يخاف بسببه وكان خوفه صلى الله عليه وسلم أن يعاقبوا بعصيان العصاة وسروره لزوال سبب الخوف

“Dalam hadits ini terkandung anjuran untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan berlindung pada-Nya tatkala terjadi perubahan cuaca dan nampak penyebab sesuatu yang ditakutkan. Rasa takut beliau SAW tersebut karena khawatir umat beliau akan diadzab dengan sebab kemaksiatan yang dilakukan oleh para pelaku maksiat dan beliau akan kembali gembira ketika sebab yang menimbulkan ketakutan telah berlalu (dalam hal ini awan mendung dan angin kencang-pent)” (Syarh Shahih Muslim 6/196).

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement