Rabu 30 Aug 2023 12:57 WIB

Anak dan Harta adalah Ujian Bagi Manusia

Tidak sedikit manusia berani melanggar ketentuan agama karena cinta yang berlebihan.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Ani Nursalikah
Anak-anak bermain di jalur pedestarian tanggul pantai Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (29/8/2023). Cilincing kini memiliki wajah baru di sisi Utara dengan selesainya pembangunan tanggul Pantai dengan panjang 3,5 kilometer. Setiap sore kawasan ini menjadi ramai dengan anak-anak yang bermain atau warga yang melepas lelah di tepian tanggul. Tanggul yang pembangunnya menelan Rp 300 miliar ini bertujuan untuk mencegah banjir rob di kawasan Cilincing.
Foto:

Memiliki harta banyak sebenarnya akan mendatangkan ujian dan bencana lebih besar. Bila manusia dapat menggunakan hartanya dengan maslahat yakni untuk menggapai keridhaan Allah niscaya harta tersebut akan menyelamatkannya. Sedang bila harta yang dimiliki justru digunakan untuk maksiat pada Allah maka harta itu akan menjadi bencana baik di dunia maupun di akhirat.

Allah berfirman dalam surat Al Alaq:

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ  ٦  اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ  ٧

Artinya: Sekali-kali tidak. Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup. (Al Alaq 6-7)

Dalam sebuah hadits disebutkan

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَـةً وَإِنَّ فِتْنَـةَ أُمَّتِيْ اَلْمَالُ. (رواه أحمد والترمذي والطبراني والحاكم عن كعب بن عياض)

Artinya: Sesungguhnya bagi tiap-tiap umat ada cobaan dan sesungguhnya cobaan umatku (yang berat) ialah harta, (HR Aḥmad, AT Tirmizi, At Tabrani, Hakim dari Ka'ab bin Iyad)

Kalau manusia dapat menahan diri, tidak akan berlebihan cintanya kepada harta dan anaknya, jika cintanya kepada Allah lebih besar daripada cintanya kepada yang lain, maka ia akan mendapat pahala dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement