Senin 03 Jul 2023 22:32 WIB

Hina Alquran? Hati-Hati Bisa Mati Mengenaskan

Kasus penghinaan Alquran kembali terjadi di Eropa.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil
Hina Alquran? Hati-Hati Bisa Mati Mengenaskan. Foto: Penodaan agama. (ilustrasi)
Foto: Republika/Mardiah
Hina Alquran? Hati-Hati Bisa Mati Mengenaskan. Foto: Penodaan agama. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Kasus perobekan Alquran kembali terjadi di Eropa. Kali ini, perobekan Alquran terjadi di Swedia. Pelakunya adalah seorang warga Irak bernama Salwan Momik. Dalam aksinya, pemuda itu merobek beberapa halaman salinan Alquran dan membakarnya dengan tujuan mengkritik Islam. Ia pun memperkenalkan diri sebagai ateis sekuler di media sosial. Pasca aksinya, Salwan Momik mendapat kecaman dari dunia Islam. Bahkan negara asalnya Irak, menginginkan agar Swedia menyerahkan Salwan Momik untuk diadili secara tegas atas aksi Islamophobia yang dilakukannya.

Terlepas dari kasus perobekan Alquran yang baru terjadi beberapa waktu lalu di Swedia. Pada zaman jahiliah juga banyak orang-orang kafir Quraisy yang membenci Rasulullah hingga menghina Alquran. Mereka pun mengolok-olok Alquran. Tetapi orang-orang yang menghina, melecehkan Alquran justru mendapatkan azab dari Allah SWT. Mereka pun mati mengenaskan. Siapa saja?

Baca Juga

Di antaranya adalah Abu Jahal. Bisa disebut dia adalah bapaknya dari para penghina quran yang tewas mengenaskan di perang Badar. Dia buka saja mengingkari Alquran, tetapi juga menjadikan Alquran sebagai bahan olok-olokan. Ketika Abu Jahal mengetahui ayat tentang pohon Zaqqum yang menjadi makanan penghuni neraka yang terdapat pada Alquran surat Ad Dukhan ayat 43-44, Abu Jahal malah mengolok-olok ayat-ayat ini dengan meminta kurma dan keju, seraya berkata kepada teman-temannya, “Makanlah buah zaqqum ini, yang diancamkan Muhammad kepadamu itu tidak lain adalah makanan yang manisnya seperti madu," 

Begitu juga ketika dia mengetahui ayat tentang sembilan belas malaikat penjaga neraka Saqor sebagaimana terdapat pada surat Al Muddassir ayat 30, Abu Jahal justru berkata “Kalau penjaganya hanya sembilan belas, maka aku sendiri akan melemparkan mereka itu.” 

 

Saat perang Badar meletus, Abu Jahal pun tewas di tangan dia pemuda dari kalangan Anshar. Sejak awal pertempuran kedua pemuda itu memang telah menargetkan untuk membunuh Abi Jahal yang suka mencaci Rasulullah dan menghina Alquran. Adapun kedua orang pemuda yang telah berhasil membunuh Abu Jahal itu adalah Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muadz bin Afra. Namun dalam riwayat lain dikatakan dua pemuda itu adalah putra Afra. 

Selain Abu Jahal ada lagi seorang Yahudi yang mati mengenaskan setelah menghina Alquran. Ia adalah Huyay bin Akhthab. Huyay tak hanya menyerukan permusuhan dengan Rasulullah tetapi juga ia berani mencela Allah SWT dan melecehkan Alquran. Sebagai contoh, suatu ketika ia mendengar kaum Muslimin membacakan surah al-Baqarah ayat 245 yang artinya :

"Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan."

Seketika, Huyay mengolok-olok ayat suci itu. Ia lantas berkata, "Bagaimana mungkin Tuhan kita berutang kepada manusia!? Pastilah yang berutang itu miskin, toh biasanya yang miskin berutang kepada si kaya." 

Menurut penuturan Qatadah, momen ini menjadi asbabun nuzul surah Ali Imran ayat 181.

Sejarah mencatat, riwayat Huyay bin Akhthab berakhir dengan nahas. Sebelum Perang Khandaq, tokoh Bani Quraizhah ini memprovokasi orang-orang Arab agar bersekutu memusuhi Nabi Muhammad SAW dan Muslimin.

Setelah dikepung pasukan Islam selama 25 hari, benteng Bani Quraizhah akhirnya tak dapat bertahan. Di dalamnya, termasuk Huyay. Ia menjadi salah satu tawanan yang dihukum mati lantaran propaganda dan aksi kejahatannya selama ini dalam memusuhi Islam.

Sebelum dieksekusi, Huyay masih sempat berkata kepada Rasulullah SAW, "Demi Allah! Aku tidak menyesal telah memusuhimu. Semua telah ditakdirkan. Siapapun yang dihinakan Allah, maka akhirnya akan terhina juga!

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement