Ahad 09 Oct 2022 23:12 WIB

Bahaya Kelakuan Munafik Saat Berperang yang Diabadikan Alquran 

Kaum munafik akan berbuat apapun untuk kepentingan diri sendiri saat berperang

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi Alquran. Kaum munafik akan berbuat apapun untuk kepentingan diri sendiri saat berperang
Foto: republika
Ilustrasi Alquran. Kaum munafik akan berbuat apapun untuk kepentingan diri sendiri saat berperang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 19 mengisahkan sifat golongan kaum munafik saat umat Islam berperang menegakkan kebaikan dan kebenaran. 

Kaum munafik selalu menghindar dan beralasan agar tidak perlu membantu Nabi Muhammad SAW dan umat Islam dalam berperang dan berjuang. 

Baca Juga

Namun setelah umat Islam memenangkan peperangan, kaum munafik berkoar-koar seolah paling berjasa dalam perjuangan tersebut. 

اَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَاِذَا جَاۤءَ الْخَوْفُ رَاَيْتَهُمْ يَنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ تَدُوْرُ اَعْيُنُهُمْ كَالَّذِيْ يُغْشٰى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِۚ فَاِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوْكُمْ بِاَلْسِنَةٍ حِدَادٍ اَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِۗ اُولٰۤىِٕكَ لَمْ يُؤْمِنُوْا فَاَحْبَطَ اللّٰهُ اَعْمَالَهُمْۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا

“Mereka (kaum munafik) kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu melihat mereka memandang kepadamu dengan bola mata yang berputar-putar seperti orang yang pingsan karena akan mati. Apabila ketakutan telah hilang, mereka mencacimu dengan lidah yang tajam, sementara mereka kikir untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Hal yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (QS Al Ahzab ayat 19) 

Dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, pada ayat ini, Allah SWT menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang selalu menghindar dari ikut berperang bersama Nabi Muhammad SAW. 

Pertama, mereka tidak menolong Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin dalam menghadapi musuh, baik pertolongan berupa harta benda maupun jiwa raga. 

Kedua, apabila musuh-musuh telah menyerang dan orang-orang yang beriman telah bertempur dengan gagah berani menolak serangan musuh, mereka menoleh ke kiri dan ke kanan karena ketakutan dan mencari jalan serta kesempatan untuk lari dari medan pertempuran menghindari kematian. 

Ketiga, apabila pertempuran telah usai dan mereka merasa telah aman, mereka bersikap sombong dan membangga-banggakan jasa serta keberanian dalam medan pertempuran padahal semua itu adalah omong kosong belaka yang menyakitkan hati.

Seakan-akan merekalah orang-orang yang berperang mati-matian sampai kemenangan tercapai, padahal semua yang mereka katakan itu adalah dusta belaka. 

Keempat, mereka sangat rakus kepada harta rampasan yang telah diperoleh kaum Muslimin, dan tidak mau melepaskan sesuatu yang telah mereka dapat.

Padahal sebelumnya mereka tidak mau mengeluarkan harta untuk menolong Nabi Muhammad SAW. Orang-orang yang bersifat seperti yang disebutkan di atas itu pada hakikatnya adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah  SWT dan Rasul-Nya, tidak beramal dengan tulus ikhlas dan tidak mau berkorban sedikit pun, karena mereka adalah orang-orang munafik.

Sebab sifat dan sikap mereka yang demikian itu, maka Allah menghapus segala pahala amal perbuatan mereka dan menjadikannya seolah-olah debu yang beterbangan yang tidak ada artinya sama sekali.

Menghapuskan pahala amal perbuatan orang-orang munafik itu bukanlah suatu yang sukar bagi Allah, tetapi amat mudah bagi-Nya, karena Dia Mahakuasa lagi Mahamengetahui segala sesuatu.   

 

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement