Tak Pernah Cukur Jenggot Hari Jumat Sepanjang 40 Tahun Akibat Salah Pahami Hadits 

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nashih Nashrullah

 Ahad 25 Sep 2022 22:11 WIB

Ilustrasi mencukur jenggot. Perlu pembacaan yang lengkap untuk memahami hadits Nabi Muhammad SAW Foto: Freepik Ilustrasi mencukur jenggot. Perlu pembacaan yang lengkap untuk memahami hadits Nabi Muhammad SAW

Perlu pembacaan yang lengkap untuk memahami hadits Nabi Muhammad SAW

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketika datang perintah dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, tidak semua orang dapat memahaminya dengan baik. Untuk itu ada beberapa orang yang bersusah payah karena salah memahami hadits yang disampaikan Rasulullah ﷺ.

Dikutip dari Buku Aneh dan Lucu, 100 Kisah Menarik Penuh Ibrah karya Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, Al-Khuthabi berkata: “Sebagian guru kami meriwayatkan hadits:

Baca Juga

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن الحلق قبل الصلاة يوم الجمعة

“Rasulullah ﷺ melarang membuat halaqah sebelum sholat Jumat.” (HR Abu Dawud no 991 dan disahihkan Ibnu Khuzaiman dan Ibnul Arabi serta dihasankan at-Tirmidzi)

Namun dia membacanya dengan mensukun huruf lam ( الْحَلْقِ) yang artinya “mencukur” sehingga selama empat puluh tahun lamanya dia tidak mencukur rambutnya sebelum sholat.

Mengetahui hal itu, maka saya katakan padanya: “Maksud hadits itu adalah halaqah. Nabi membenci kumpul-kumpul untuk ilmu dan lainnya sebelum Jumat dan memerintahkan untuk sibuk dengan sholat dan mendengarkan khutbah. Setelah shalat, silahkan untuk mengadakan perkumpulan”.

Akhirnya, dia sangat bergembira sekali dengan penjelasanku sembari mengatakan: “Kamu telah meringankan penderitaanku. Semoga Allah membalas kebaikanmu padaku”. (Lihat Ma’alim as-Sunan)

Nukilan cerita ini persis dengan kisah tentang pemahaman hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana dinukilkan dari kitab Fath al-Mughits:

لا يد خل الجنة قتات “Tidak akan masuk surga pengadu domba”. (HR. Bukhari: 6056 dan Muslim: 105)

Suatu saat, pernah ada seorang mendengar hadits ini dari seorang khatib di atas mimbar lalu dia menangis seraya mengatakan: “Aku harus kerja apa lagi, aku tidak punya kerjaan kecuali jualan al-qatt yaitu makanan hewan.” 

Lihatlah orang tersebut, dia salah paham hadits, karena maksud Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits tersebut bukan penjual al-qatt (makanan hewan) tetapi maksudnya adalah orang yang suka namimah (mengadu domba).  Rossi Handayani 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id