Alasan Dilarang Boros dan Kikir, ini Penjelasannya

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko

 Kamis 16 Jun 2022 09:11 WIB

Mushaf Alquran Foto: saudigazette Mushaf Alquran

Alquran mengungkapkan keadaan orang-orang yang kikir dan boros

REPUBLIKA.CO.ID,  وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا

Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan (pula) engkau mengulurkannya secara berlebihan sebab nanti engkau menjadi tercela lagi menyesal. (Al-Isra': 29)

Baca Juga

Maksud ayat ini adalah janganlah kamu jadikan tangan kamu terbelenngu pada lehermu, yakni janganlah enggan mengulurkan tangan kamu untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan. Jangan juga kamu terlalu mengulurkannya, yakni janganlah kamu boros dalam membelanjakan harta, karena itu kamu menjadi tercela karena kekikiran kamu, dan menyesal karena keborosanmu dalam membelanjakan harta.

Dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, pada ayat ini, Allah SWT menjelaskan cara-cara yang baik dalam membelanjakan harta. Allah menerangkan keadaan orang-orang yang kikir dan boros dengan menggunakan ungkapan jangan menjadikan tangan terbelenggu pada leher, tetapi juga jangan terlalu mengulurkannya.

Kedua ungkapan ini lazim digunakan orang-orang Arab. Pertama, berarti larangan berlaku bakhil atau kikir, sehingga enggan memberikan harta kepada orang lain, walaupun sedikit. Ungkapan kedua, berarti melarang orang berlaku boros dalam membelanjakan harta, sehingga melebihi kemampuan yang dimilikinya.

Kebiasaan memboroskan harta akan mengakibatkan seseorang tidak mempunyai simpanan atau tabungan yang bisa digunakan ketika dibutuhkan.

Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa cara yang baik dalam membelanjakan harta adalah dengan cara yang hemat, layak dan wajar, tidak terlalu bakhil dan tidak terlalu boros. Terlalu bakhil akan menjadikan seseorang tercela, sedangkan terlalu boros akan mengakibatkan pelakunya pailit atau bangkrut.

Adapun keterangan-keterangan yang didapat dari hadis-hadis Nabi dapat dikemukakan sebagai berikut.

Imam Ahmad dan ahli hadis yang lain meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan menjadi miskin orang yang berhemat."

Hadis ini menjelaskan pentingnya berhemat, sehingga Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa orang yang selalu berhemat tidak akan menjadi beban orang lain atau menjadi miskin.

Imam al-Baihaq meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Berlaku hemat dalam membelanjakan harta, separuh dari penghidupan."

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id